beritafakta.id – Insiden kekerasan dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi tahun 2025 yang mengakibatkan jatuhnya korban, menuai kecaman keras dari Jaringan Indonesia (JARI) Jambi.
Koordinator JARI Jambi, Andi Chaniago, menyayangkan peristiwa tersebut. Menurutnya, PBAK seharusnya menjadi “kawah candradimuka” bagi calon intelektual muslim, bukan ajang unjuk kekerasan.
“Sebagai kampus Islam, seharusnya jauh dari tindakan brutal ala preman. Kekerasan dan intimidasi harus dilenyapkan dari dunia kampus,” tegas Andi.
Andi menekankan bahwa kampus semestinya menjadi ruang yang ramah, tempat bertukar gagasan, serta menumbuhkan budaya adu otak, bukan adu otot. Ia berharap pimpinan UIN STS Jambi, terutama rektor beserta jajarannya, mampu menciptakan kehidupan akademik yang sehat, bebas dari kekerasan, serta menjadi teladan dalam menerima perbedaan.
Lebih lanjut, JARI Jambi juga mendorong aparat kepolisian untuk mengambil langkah hukum.
“Kami berharap Polda Jambi segera memproses laporan dari BADKO HMI dan HMI Cabang Jambi terkait tindak kekerasan dan penistaan atribut HMI di UIN STS Jambi. Agar kejadian serupa tidak terulang, pelaku harus ditindak tegas sesuai hukum,” pungkasnya.






