Tangerang Selatan – Bagi sebagian orang, tambal ban mungkin pekerjaan sederhana. Tapi bagi Burhan, pria asal Jambi yang sejak 2011 membuka bengkel di Buaran Ciater, Serpong, tambal ban adalah jalan rezeki yang selalu ia awali dengan sholat dhuha.
Setiap pagi sekitar pukul 8, sebelum membuka usahanya, Burhan lebih dulu menunaikan sholat sunnah tersebut.
“Alhamdulillah, meski sunnah tapi bagi saya rasanya wajib. Saya yakin Allah sudah mengatur rezeki, tinggal kita ikhtiar dengan cara yang baik,” ungkapnya sambil tersenyum.
Burhan bukan orang baru di dunia mesin. Pengalamannya bekerja sebagai mekanik di perusahaan alat berat membuatnya percaya diri untuk membuka usaha mandiri. Dengan memanfaatkan halaman rumah, ia merintis bengkel tambal ban dan penjualan ban bekas berkualitas.
Harga yang ia tawarkan relatif terjangkau, mulai dari Rp50 ribu – Rp100 ribu, dengan berbagai pilihan merek. Pelanggannya pun beragam, dari pengendara harian hingga pengusaha kecil di sekitar Pamulang dan Ciputat.
Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi berbagai karakter konsumen.
“Ada yang ngerti, ada juga yang sok tahu. Tapi biasanya setelah dijelaskan pelan-pelan, mereka akhirnya mau mengerti. Semua kan demi keselamatan di jalan,” kata Burhan.
Bengkelnya buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB, kecuali ada keperluan mendesak. Lokasinya yang strategis di jalur ramai Pamulang–Ciputat membuat usaha ini kian berkembang.
Lebih dari sekadar bisnis, Burhan selalu menekankan pentingnya merawat ban.
“Ban itu nyawa kendaraan. Bocor atau rusak harus ditangani sesuai jenisnya, tubeless atau biasa. Kontrol rutin itu penting, biar nyaman sekaligus aman,” tutupnya.
Bagi pengendara motor yang melintas, bengkel Burhan bisa ditemukan lewat akses SMKN 8 dari arah Pamulang, atau dari Mekar Jaya Serpong lewat Perum Habitat.(ams)






