Banjarnegara — Kerusakan berat pada Jembatan Kali Lubang Sodong di Dukuh Penisihan, Desa Merden, Kecamatan Purwonegoro, Kabupaten Banjarnegara, membuat warga setempat kesulitan menjalani aktivitas harian. Jembatan yang menjadi satu-satunya akses penghubung antarpermukiman tersebut ambruk akibat intensitas hujan tinggi pada Rabu sore, 12 November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB.
Ketua RT 8/6 Dusun Penisihan, Narsudi, saat ditemui di lokasi pada Rabu (19/11/2025) menyampaikan bahwa sejumlah pihak telah meninjau kerusakan jembatan, mulai dari perwakilan kecamatan, pemerintah kabupaten, hingga pemerintah desa.
“Dari berbagai pihak yang berwenang sudah turun untuk melihat lokasi kejadian jembatan kami yang rusak parah. Jembatan ini memang sudah cukup lama,” ujarnya.
Menurut Narsudi, proses perbaikan masih dilakukan secara gotong royong oleh warga karena belum ada perbaikan resmi dari pemerintah.
“Jembatan ini menghubungkan warga dua RT, yakni RT 8 dan RT 7, dengan volume tinggi sekitar 8 meter dan panjang 22 meter. Umurnya baru sekitar 20 tahun. Saat ini kami memperbaiki secara sukarela. Ada 12 orang yang bekerja gotong royong, dan semua keperluan seperti makanan, minuman, hingga rokok kami tanggung sendiri,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa sebagian konstruksi jembatan sudah rapuh sehingga tidak dapat menahan derasnya air saat hujan ekstrem. Warga kini telah membuat jembatan darurat berbahan bambu untuk sementara waktu.
“Kebanyakan yang kerja bakti dari RT 8, sedangkan dari RT 7 hanya dua orang ikut membantu,” tambahnya.
Narsudi juga mengakui bahwa kebutuhan perbaikan jembatan sebelumnya tidak masuk dalam musyawarah desa, karena warga lebih fokus pada kerusakan jalan yang juga sangat memprihatinkan.
“Di wilayah kami ada sekitar 30 warga. Dulu pernah terjadi tanah longsor sehingga sebagian warga pindah. Untuk jalan pun kami perbaiki sendiri secara swadaya dan dibiayai dengan uang pribadi,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi infrastruktur tersebut, termasuk jalan sepanjang sekitar 800 meter dengan lebar 3 meter yang merupakan akses utama warga.
“Yang paling terdampak saat ini anak-anak sekolah yang menuntut ilmu di luar Penisihan. Mereka kesulitan karena akses sangat terganggu,” tegasnya.(bas)






