Kembang Api Dilarang, Kenduri Digelar: Kebijakan Akhir Tahun Pemko Batam Tuai Kritik

Selasa, 30 Desember 2025 - 12:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batam – Pemerintah Kota Batam melalui Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 53/2025 melarang masyarakat menyalakan kembang api dan petasan pada malam pergantian Tahun Baru. Dalam edaran tersebut, warga juga diminta merayakan pergantian tahun secara sederhana, tertib, dan penuh empati, sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta sejumlah daerah lain di Indonesia yang terdampak bencana.

Namun, kebijakan itu justru memicu polemik. Di saat masyarakat diminta menahan euforia dan kesederhanaan ditegaskan dalam surat edaran resmi, Pemerintah Kota Batam justru menggelar Kenduri Akhir Tahun 2025 yang dikemas dalam bentuk hiburan sekaligus penggalangan dana bencana. Berdasarkan informasi yang beredar, kenduri tersebut menghadirkan artis nasional Sammy Simorangkir, serta sejumlah band lokal seperti The Moon Band, D’Soul Band, Cabin Band, dan Monster Crazy Band. Acara ini juga diisi dengan penampilan dan kehadiran Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, yang disebut menjadi penggagas kegiatan sebagai momentum refleksi akhir tahun sekaligus ajang penggalangan dana untuk korban bencana. Konsep acara inilah yang kemudian menuai kritik. H. Raja Hery Mokhrizal, SH., MH., Ketua DPC Partai Hanura Kota Batam, secara terbuka menyatakan kurang sepakat dan tidak sepaham dengan kebijakan tersebut.

“Kalau masyarakat dilarang menyalakan kembang api dan diminta merayakan Tahun Baru secara sederhana, maka pemerintah juga harus memberi contoh. Jangan satu sisi melarang, tapi di sisi lain menghadirkan artis ibu kota dan hiburan besar,” ujarnya.

Raja Hery menegaskan, sebagai partai pengusung pasangan calon pemenang Pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam, Hanura tidak hanya berkewajiban mendukung jalannya pemerintahan, tetapi juga harus mengingatkan ketika ada kebijakan yang berpotensi merugikan masyarakat.

“Dukungan politik bukan berarti membenarkan semua kebijakan. Justru karena kami bagian dari pengusung, kami merasa punya tanggung jawab moral untuk mengingatkan pemerintah kota Batam agar tidak mengambil langkah-langkah yang menimbulkan polemik dan kecurigaan publik,” tegasnya.

Menurut Raja Hery, meskipun acara tersebut mengusung misi kemanusiaan, pagelaran hiburan dengan artis nasional dan sejumlah band tetap membutuhkan anggaran yang besar, mulai dari sewa tenda, sound system, hingga biaya penampilan artis dan pengisi acara.

“Ini sudah bukan zamannya lagi tipu-tipu menghabiskan anggaran di akhir tahun untuk kegiatan foya-foya, lalu diberi label refleksi atau penggalangan dana. Publik hari ini kritis dan tidak mudah dibodohi,” tambahnya.

Ia menilai, dana yang dikeluarkan untuk rangkaian hiburan tersebut akan jauh lebih efektif jika langsung disalurkan kepada daerah terdampak bencana, tanpa melalui acara seremonial yang berpotensi menyedot biaya besar. Sebagai alternatif, Raja Hery mendorong Pemko Batam mengeluarkan edaran resmi kepada para pengusaha di Batam untuk berpartisipasi dalam penggalangan dana kemanusiaan secara terbuka dan terstruktur.

“Batam ini kota industri dan jasa. Dengan edaran resmi, saya yakin pengusaha akan menyumbang. Dana itu bisa langsung disalurkan oleh pemerintah kota kepada pemerintah daerah terdampak bencana. Lebih terarah, lebih efisien, dan tidak menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari Pemko Batam terkait besaran anggaran Kenduri Akhir Tahun 2025, sumber pembiayaan, serta mekanisme transparansi dana yang dihimpun dari kegiatan tersebut. Polemik ini pun mengundang pertanyaan publik: apakah larangan kembang api dan imbauan kesederhanaan benar-benar wujud empati, atau sekadar mengubah bentuk perayaan akhir tahun menjadi panggung hiburan yang lain?  Masyarakat kini menanti konsistensi dan keteladanan Pemko Batam dalam mengelola kebijakan yang mengatasnamakan solidaritas kemanusiaan.

Simon T

Berita Terkait

Wujudkan Financial Freedom, Pemkab Brebes Bekali ASN Hadapi Purna Tugas
Kolaborasi CSR Hadirkan 10 Rumah Sejuta Harapan, Rumah Layak Huni di Brebes
Makin Rawan di Kabupaten Bekasi, SDN Sukaraya 01 Dibobol Maling, Kerugian Capai Puluhan Juta
Desa Jatilawang Terimbas Angin Puting Beliung, 20 Rumah Milik Warga Mengalami Kerusakan
Menteri PPPA Minta Maaf, Tegaskan Fokus Penanganan Trauma dan Perlindungan Anak Korban Tragedi Kreta Api Bekasi Timur
Praktik Culas Absensi Fiktif ASN Pemkab Brebes Berjalan Sejak 2024
Diduga Kerusakan Kelistrikan, Mobil Warga Terbakar Saat Mesin Dipanasi Pemilik
Polres Matangkan Strategi Pengamanan dan TFG Antisipasi Membludaknya Jamaah, Hadirnya Gus Iqdam di Brebes
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 19:20 WIB

Wujudkan Financial Freedom, Pemkab Brebes Bekali ASN Hadapi Purna Tugas

Kamis, 30 April 2026 - 19:18 WIB

Kolaborasi CSR Hadirkan 10 Rumah Sejuta Harapan, Rumah Layak Huni di Brebes

Kamis, 30 April 2026 - 09:12 WIB

Desa Jatilawang Terimbas Angin Puting Beliung, 20 Rumah Milik Warga Mengalami Kerusakan

Kamis, 30 April 2026 - 09:09 WIB

Menteri PPPA Minta Maaf, Tegaskan Fokus Penanganan Trauma dan Perlindungan Anak Korban Tragedi Kreta Api Bekasi Timur

Kamis, 30 April 2026 - 09:04 WIB

Praktik Culas Absensi Fiktif ASN Pemkab Brebes Berjalan Sejak 2024

Berita Terbaru