Oleh: dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua
Di tengah pesatnya perkembangan industri bioteknologi global yang diwarnai berbagai klaim keunggulan terapi sel, arah kebijakan kesehatan dinilai perlu tetap berpijak pada bukti ilmiah yang objektif, aman, dan aplikatif. Salah satu pendekatan yang dinilai realistis adalah penggunaan sel punca autologus, yakni sel yang berasal dari tubuh pasien sendiri.
Praktisi medis sekaligus penggagas protokol AHT-CURE, dr. Agus Ujianto, menyebut metode Autologous Fresh Manipulation Mononuclear Cell sebagai pilihan yang tidak hanya mempertimbangkan efektivitas medis, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM), kemampuan ekonomi masyarakat, serta aspek keamanan genetika di bawah regulasi nasional.
Keamanan dan Rekam Jejak Panjang
Penggunaan sel autologus didasarkan pada prinsip dasar kedokteran primum non nocere atau “tidak membahayakan”. Berbeda dengan terapi berbasis donor (allogenik) yang berpotensi menimbulkan reaksi penolakan imun seperti Graft-versus-Host Disease (GvHD), terapi autologus dinilai lebih aman karena menggunakan sel pasien sendiri.
Sejarah panjang terapi ini juga menjadi salah satu landasan. Riset transplantasi sel yang dikembangkan sejak pertengahan abad ke-20 dan berujung pada penghargaan Nobel tahun 1990 menunjukkan adanya rekam jejak keamanan jangka panjang. Sementara itu, teknologi rekayasa genetika modern seperti CRISPR masih terus dikaji karena adanya potensi mutasi yang belum sepenuhnya dapat diprediksi.
Kritik terhadap Overclaim Imunoterapi
Dalam beberapa tahun terakhir, imunoterapi berbasis manipulasi laboratorium kerap disebut sebagai solusi utama peningkatan imunitas. Namun, menurut dr. Agus, klaim tersebut perlu dilihat secara lebih objektif.
Ia menilai bahwa terapi imun berbasis laboratorium memiliki biaya tinggi dan risiko efek samping tertentu, seperti badai sitokin. Sebaliknya, penguatan sistem imun juga dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih sederhana dan berkelanjutan, seperti pola hidup sehat, olahraga, serta asupan nutrisi yang baik.
Program kesehatan masyarakat seperti vaksinasi nasional juga disebut sebagai bentuk imunoterapi massal yang telah terbukti efektif dan terjangkau dalam melindungi populasi secara luas.
Fresh Manipulation vs Produk Industri
Di sisi lain, industri terapi sel saat ini juga berkembang ke arah produksi massal seperti sekretom dan eksosom. Produk ini dinilai unggul dari sisi distribusi, namun ada kekhawatiran terkait penurunan efektivitas akibat proses penyimpanan.
Pendekatan fresh manipulation—yakni penggunaan sel segar tanpa proses penyimpanan panjang—dinilai mampu mempertahankan fungsi biologis sel secara optimal. Selain itu, penggunaan produk impor juga menimbulkan isu ketergantungan serta potensi risiko terkait data biologis.
AHT-CURE dan Tantangan Geografis Indonesia
Konsep Auto Hemotherapy and Cell Unit Research Everlasting (AHT-CURE) disebut dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan beragam.
Teknologi ini diklaim dapat diterapkan secara bertahap, mulai dari fasilitas kesehatan dasar hingga rumah sakit rujukan dengan teknologi lebih lengkap. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas akses layanan terapi regeneratif tanpa membebani sistem rujukan nasional.
Aspek Regulasi dan Etika
Dari sisi regulasi, penggunaan sel autologus dinilai lebih selaras dengan prinsip etika medis dan hukum yang berlaku. Karena menggunakan sel pasien sendiri, terapi ini dianggap menghormati otonomi pasien serta menghindari potensi komersialisasi jaringan tubuh manusia yang dilarang dalam regulasi di Indonesia.
Dukungan Infrastruktur Kesehatan
Pengembangan terapi ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperluas layanan kesehatan, termasuk penyediaan fasilitas catheterization laboratory (Cath Lab) di berbagai rumah sakit daerah.
Fasilitas ini memungkinkan penghantaran sel secara lebih presisi langsung ke organ target, sehingga berpotensi meningkatkan efektivitas terapi, khususnya pada kasus penyakit vaskular dan iskemik.
Kesimpulan
Di tengah persaingan dan berbagai klaim dalam industri terapi sel, pendekatan yang realistis dinilai perlu mempertimbangkan aspek keamanan, kesiapan SDM, kondisi geografis, serta kepatuhan terhadap regulasi.
Terapi berbasis Autologous Fresh Manipulation Mononuclear Cell dalam kerangka AHT-CURE disebut sebagai salah satu opsi yang menjanjikan karena dinilai lebih aman, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan sistem kesehatan nasional.
Namun demikian, pengembangan dan penerapannya tetap memerlukan kajian ilmiah berkelanjutan serta pengawasan ketat agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.










