Sopir Trailer Priok: Kerja Maksimal, Perlindungan Minimal

Minggu, 1 Maret 2026 - 02:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antrean truk kontainer menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk bongkar-muat menimbulkan kemacetan di Jl. Jampea Raya, Jakarta Utara. Di balik klaim fleksibilitas, sopir trailer sebenarnya menunggu tanpa jeda, siap dipanggil kapan saja tanpa kepastian istirahat. (Dok: Project M/Henry)

Antrean truk kontainer menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk bongkar-muat menimbulkan kemacetan di Jl. Jampea Raya, Jakarta Utara. Di balik klaim fleksibilitas, sopir trailer sebenarnya menunggu tanpa jeda, siap dipanggil kapan saja tanpa kepastian istirahat. (Dok: Project M/Henry)

Jakarta, beritafakta.id- Hujan mengguyur Jalan Raya Pantura di sekitar Jatisari pada 14 November 2025 malam. Setelah magrib, arus kendaraan langsung padat. Truk, mobil, dan motor saling berhimpitan. Di tengah kondisi itu, Nata (32) mengemudikan truk trailer bermuatan 28 ton gula—beban yang bahkan melebihi kapasitas kendaraannya.

Tiba-tiba, mobil wing box di depannya mengerem mendadak. Karena truk membawa muatan berlebih, rem tidak bekerja maksimal. Dalam situasi genting itu, Nata hanya punya dua pilihan: banting setir atau tabrak lurus ke depan.

Namun, ia memilih tetap lurus.

“Di spion saya lihat banyak motor. Saya takut ada juga yang di blind spot,” ujar Nata.

Nata menyetir truk kontainer di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Perusahaan membebankan risiko dan dampak kecelakaan kerja pada sopir. (Dok: Project M/Henry)

Akhirnya, tabrakan tak terhindarkan. Benturan terdengar keras. Meski begitu, tidak ada korban luka serius. Nata langsung turun dan memeriksa kondisi kendaraan. Sopir wing box juga mengecek bagian belakang mobilnya.

Setelah itu, Nata segera menghubungi perusahaan untuk melaporkan kejadian tersebut. Ia juga meminta kontak sopir wing box agar perusahaan bisa berkoordinasi langsung.

“Sesama sopir kan sama-sama di jalan. Ya udah gini aja mas, kalau pihak perusahaan saya nelepon tolong diangkat, tolong dijelaskan,” katanya.

Meskipun bagian depan truknya rusak, Nata tetap melanjutkan perjalanan ke Subang. Sebab, selama truk masih bisa berjalan, ia harus menyelesaikan pengiriman.

Seminggu kemudian, perusahaan menyerahkan rincian biaya perbaikan sebesar Rp3.323.000—dan seluruh biaya itu harus ia tanggung sendiri.

“Itu kan posisinya kita lagi kerja, bukan lagi main. Seharusnya pihak perusahaan mengasuransikan dong,” tegasnya.

Perusahaan memang menawarkan cicilan melalui pemotongan pendapatan. Akan tetapi, Nata menolak menandatangani surat persetujuan utang.

“Pihak perusahaan memaksa, saya gak mau. Gak mau tanda tangan,” ujarnya.

Risiko di Jalan: Kecelakaan Bukan Satu-Satunya Ancaman

Selain kecelakaan, Nata juga menghadapi ancaman begal.

Pada 12 Desember 2025 sekitar pukul 00.00 WIB, setelah mengantar kontainer ke Subang, ia melintasi Tol Tarumajaya arah Marunda. Kemudian, dua orang berboncengan motor mendekat. Salah satu dari mereka berpura-pura menanyakan alamat.

“Mau ke mana?” tanya Nata.

Alih-alih menjawab jelas, orang itu justru berkata, “Turun dulu deh!”

Karena merasa terancam, Nata langsung menutup kaca dan tancap gas. Namun, sebelum kaca tertutup rapat, dua batu besar melayang ke arahnya. Satu batu menghantam siku kanannya, sementara batu lainnya memecahkan kaca samping kiri.

Di kalangan sopir, kelompok seperti itu dikenal dengan sebutan “asmoro”. Biasanya, mereka melakukan pemalakan, pencurian, hingga perampasan truk.

“Di bawah jam 11 malam itu relatif aman. Kalau udah di atas jam 11, apalagi jam 2 atau jam 3, itu yang malak bisa naik sampai ke atas,” jelas Nata.

Fleksibel Katanya, Tapi Harus Siaga 24 Jam

Di atas kertas, pekerjaan sopir trailer terlihat fleksibel. Namun, dalam praktiknya, Nata harus selalu siap kapan saja.

“Disuruh narik jam berapa pun. Kita gak ada patokan waktu. Walaupun kita tidur nyenyak jam 1-2 malam, ketika ada telepon dari perusahaan, kita berangkat,” katanya.

Artinya, waktu istirahat tidak benar-benar bebas. Sebaliknya, ia hanya menunggu panggilan berikutnya.

Dalam satu rute saja, Nata bisa mengemudi hampir 24 jam. Selain itu, ia juga harus antre bongkar-muat di pelabuhan, menunggu proses di depo, dan menghadapi kemacetan panjang. Karena itu, ia sering mencuri waktu tidur ketika truk berhenti.

Padahal, Pelabuhan Tanjung Priok merupakan objek vital nasional yang menopang logistik Indonesia. Setiap hari, kontainer keluar-masuk tanpa henti. Namun ironisnya, para sopir yang menjaga kelancaran distribusi justru tidak mendapatkan perlindungan kerja memadai.

Skema Ritase: Pendapatan Fluktuatif, Tekanan Tetap

Perusahaan menghitung penghasilan Nata berdasarkan ritase. Untuk kontainer 20 feet, ia menerima Rp75 ribu. Sementara itu, untuk 40 feet, ia mendapat Rp100 ribu.

Selain upah ritase, perusahaan memberikan uang jalan. Misalnya, rute Priok–Subang menghasilkan Rp1,4 juta. Akan tetapi, Nata harus mengeluarkan:

  • Rp700 ribu untuk solar
  • Rp200 ribu untuk tol
  • Rp150 ribu untuk bongkar-muat dan depo

Jika tidak ada pungutan liar, ia bisa menyimpan sekitar Rp350 ribu. Namun, jika jarak lebih pendek, sisa uangnya tentu lebih kecil.

Ketika order sepi pada Desember 2025, Nata hanya membawa pulang sekitar Rp1,5 juta. Sebaliknya, pada Januari 2026 saat order ramai, ia menyelesaikan 20 ritase dan memperoleh sekitar Rp10 juta.

Meski demikian, penghasilan yang fluktuatif membuatnya cemas.

“Harus pintar-pintar hemat. Jadi tetap was-was, kenapa? Karena takut sepi,” ujarnya.

Status “Mitra” dan Minimnya Perlindungan

Perusahaan menyebut Nata sebagai “mitra”, bukan buruh.

“Bisa dibilang sopir trailer seluruh Priok rata-rata mitra semua,” katanya.

Karena status itu, ia tidak menerima gaji bulanan tetap. Selain itu, perusahaan juga tidak menyediakan BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, maupun asuransi lainnya.

Soal THR pun jauh dari ideal. Pada tahun pertama, ia hanya menerima Rp200 ribu. Nilainya memang naik Rp50 ribu setiap tahun, tetapi jumlah tersebut tetap kecil.

“Kalau saya pribadi mending ada gaji bulanan,” kata Nata. “Sistem mitra kalau bisa dihapus.”

Pakar: Fleksibilitas Jangan Jadi Alasan Menghapus Hak

Peneliti perburuhan Syarif Aripin menilai sistem kemitraan membuat pekerja terus mengejar batas upah minimum.

“Akibatnya orang dengan sistem kemitraan di industri transportasi tradisional akan seumur hidup upahnya mengejar upah minimum,” ujarnya.

Sementara itu, Anwar Sanusi dari Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan agar fleksibilitas pasar kerja tidak menghapus hak normatif pekerja.

“Fleksibilitas harus ditempatkan dalam kerangka keseimbangan antara kepentingan dunia usaha dan perlindungan pekerja,” katanya.

Muhammad Arira Fitra dari Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia juga menegaskan bahwa hubungan kerja bisa dikenali dari adanya upah, perintah, dan pekerjaan.

“Karena kemitraan jam kerja gak jelas. Sopir bisa kerja dua hari, tiga hari, dan seterusnya. Jaminan BPJS tidak ada, padahal sopir ini aktivitas kerja yang sangat rentan,” tegasnya.

Pada akhirnya, logistik nasional memang harus terus bergerak. Namun, di balik kelancaran arus barang dari Pelabuhan Tanjung Priok, ada sopir seperti Nata yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan tanpa perlindungan memadai.

“Kita bukan mitra. Mobilnya punya perusahaan, orderannya juga punya perusahaan,” tutup Nata.

Dan sampai hari ini, ia tetap menarik trailer—sambil berharap sistem kerja yang lebih adil benar-benar hadir, bukan sekadar janji.

Penulis : Yudi Purwanro

Editor : Azizah Estetika

Berita Terkait

Emil Audero Masuk Radar Juventus Lagi? Fans Timnas Happy, Juventini Deg-Degan
Menjaga Malam Ramadan: Wakapolsek Pancoranmas Serukan Perang terhadap Tawuran dan Miras
Respon Cepat Polda Bali Mengungkap Pelaku Penculikan WNA Ukraina. Terbitkan DPO dan Red Notice
Dukungan Sistem Digital Terintegrasi untuk Pemindahan ASN ke IKN
Ramadan 2026: SMSI Tangsel Gaspol Berbagi Takjil, Soliditas Makin Kuat
SDN 2 jlamprang Wonosobo Giat Mujahadah Bersama Guna Bahas Kemajuan Sekolah.
Polda Jateng Godok Program Unggulan “Valet and Ride” di Polres Brebes, Persiapan Mudik Idul Fitri 1447/H
Minim Penerangan Jalan, Ruas Pasar Pekikiran–Brengkok–Karangsalam di Susukan.
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 Maret 2026 - 03:17 WIB

Emil Audero Masuk Radar Juventus Lagi? Fans Timnas Happy, Juventini Deg-Degan

Minggu, 1 Maret 2026 - 02:33 WIB

Sopir Trailer Priok: Kerja Maksimal, Perlindungan Minimal

Sabtu, 28 Februari 2026 - 23:38 WIB

Menjaga Malam Ramadan: Wakapolsek Pancoranmas Serukan Perang terhadap Tawuran dan Miras

Sabtu, 28 Februari 2026 - 20:12 WIB

Respon Cepat Polda Bali Mengungkap Pelaku Penculikan WNA Ukraina. Terbitkan DPO dan Red Notice

Sabtu, 28 Februari 2026 - 17:04 WIB

Ramadan 2026: SMSI Tangsel Gaspol Berbagi Takjil, Soliditas Makin Kuat

Berita Terbaru