
Narasumber Ahli: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa

Kedokteran regeneratif kini menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi layanan kesehatan global. Terapi sel punca (stem cell) tidak lagi sekadar wacana ilmiah, melainkan telah berkembang menjadi pendekatan klinis nyata untuk memperbaiki kerusakan organ hingga peremajaan sistem tubuh.
Namun, untuk memahami nilai terapi ini secara utuh—baik dari sisi medis maupun ekonomi—masyarakat perlu menelusuri akar sejarahnya, evolusinya dalam dunia bedah, hingga penerapannya dalam era precision medicine yang berdampak pada struktur biaya yang sangat bervariasi di berbagai negara.
Menurut dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa, pemahaman ini penting agar pasien tidak hanya melihat terapi sebagai layanan mahal, tetapi sebagai proses ilmiah yang terukur.

Konsep penyembuhan menggunakan elemen tubuh sendiri (autologus) telah dikenal sejak lama. Dalam praktik tradisional, termasuk pendekatan kenabian (Tibb an-Nabawi), metode seperti bekam (Al-Hijama) diyakini mampu merangsang respons penyembuhan alami melalui aktivasi faktor pertumbuhan dan perbaikan sirkulasi.
Dalam kedokteran modern, konsep ini berkembang menjadi prosedur autograft jaringan, seperti:
“Ini adalah bentuk awal regenerasi berbasis tubuh sendiri. Seiring perkembangan teknologi, pendekatan ini berevolusi dari level jaringan menjadi level seluler,” jelas dr. Agus.
Kini, terapi autologus tidak lagi memindahkan jaringan utuh, melainkan memanfaatkan sel penyembuh murni—seperti sel mononuklear dari sumsum tulang—yang ditargetkan langsung ke organ yang mengalami kerusakan.
Keamanan terapi berbasis sel mendapat pengakuan global sejak Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran 1990 yang diberikan kepada E. Donnall Thomas dan Joseph E. Murray.
Penelitian mereka membuktikan bahwa transplantasi sel, khususnya yang berasal dari tubuh sendiri, dapat diterima tanpa risiko penolakan imunologis seperti Graft-Versus-Host Disease (GVHD).
Dalam praktik modern, terapi sel autologus juga berperan penting dalam penanganan kanker melalui pendekatan Sandwich Therapy.
Pada kondisi di mana kemoterapi atau radioterapi bersifat myeloablative (merusak sumsum tulang), sel punca pasien diambil sebelum terapi dimulai. Setelah terapi selesai, sel tersebut dikembalikan untuk memulihkan sistem hematopoietik.
“Ini bukan sekadar terapi tambahan, tetapi strategi penyelamatan. Sel membantu memulihkan produksi darah dan memperbaiki kerusakan akibat terapi agresif,” ujar dr. Agus.
Dalam era precision medicine, biaya terapi tidak bisa disamaratakan. Ada tiga komponen utama yang menentukan:
Biaya berfokus pada tindakan medis, bukan material sel.
Keunggulan:
Biaya berbasis dosis dan produksi laboratorium.
“Semakin besar kebutuhan sel, semakin tinggi biaya. Ini yang membuat terapi terlihat mahal, padahal berbasis perhitungan biologis,” jelas dr. Agus.
Sebelum terapi, pasien wajib menjalani Medical Check-Up (MCU):
Metode penghantaran sel juga memengaruhi biaya:
Dalam praktiknya, terapi sering dikombinasikan dengan PRP (Platelet-Rich Plasma) dan secretome untuk meningkatkan efektivitas regenerasi.
Biaya terapi sel di dunia sangat dipengaruhi oleh regulasi, teknologi, dan sistem kesehatan:
Terapi regeneratif bukanlah layanan instan, melainkan hasil evolusi panjang dari praktik bedah klasik menuju kedokteran presisi berbasis seluler.
Variasi biaya yang terjadi mencerminkan kompleksitas:
Bagi masyarakat, pemahaman komprehensif menjadi kunci sebelum menjalani terapi. Konsultasi dengan dokter ahli dan transparansi informasi akan membantu memastikan bahwa terapi yang dipilih benar-benar tepat guna, aman, dan efisien.
“Terapi ini adalah investasi kesehatan jangka panjang. Harus direncanakan dengan ilmu, bukan sekadar harapan,” tutup dr. Agus.
Tidak ada komentar