Banjarnegara,Beritafakta.id– Setelah tiga tahun aliran irigasi terganggu, ratusan warga bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bergerak cepat memasang 60 unit bronjong bambu (dekem) di Sungai Merawu, Rabu (15/4/2026). Langkah darurat ini ditujukan untuk memulihkan suplai air ke sekitar 480 hektare sawah yang terdampak di dua kecamatan.
Aksi gotong royong dipusatkan di kompleks Jembatan Clangap, Kecamatan Banjarmangu. Pemasangan dekem dilakukan sebagai solusi sementara untuk mengatasi perubahan arus sungai dan pendangkalan yang selama ini menyebabkan air tidak lagi masuk ke saluran irigasi Bendungan Clangap.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan selamatan di tepi sungai, sebagai bentuk harapan agar proses pemulihan berjalan lancar.
Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Banjarnegara dr. Amalia Desiana, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Firman Sapta Adi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Yusuf Winarso, unsur Forkopimca, serta kepala desa dari wilayah terdampak.
Kepala UPT Wilayah 3 DPU PR, Adi Purnomo, menjelaskan bahwa pemasangan dekem bertujuan mengarahkan kembali arus Sungai Merawu ke tengah aliran.
“Selama ini dasar sungai mengalami pendangkalan dan perubahan arus akibat aktivitas galian C di hilir. Akibatnya, air tidak bisa naik ke pintu irigasi. Dengan dekem ini, arus kita bendung dan arahkan kembali,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung hampir tiga tahun dan berdampak langsung pada sektor pertanian. Tercatat sekitar 480 hektare sawah di lima desa mengalami gagal tanam dan penurunan produktivitas signifikan.
Lima desa tersebut meliputi Desa Jenggawur, Banjar Kulon, dan Banjarmangu di Kecamatan Banjarmangu, serta Desa Gumisir dan Linggasari di Kecamatan Wanadadi.
Camat Banjarmangu, Gaba Tri Sumbarwanto, menegaskan bahwa pemulihan irigasi ini sangat penting dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar jika kondisi ini dibiarkan. Produksi pertanian dari wilayah ini tidak hanya untuk kebutuhan lokal, tetapi juga menyuplai daerah lain,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah daerah telah mengajukan anggaran ke pemerintah pusat. Dari usulan awal sebesar Rp8–9 miliar, kini telah disetujui menjadi Rp46 miliar melalui APBN.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan pengaman tebing serta normalisasi Sungai Merawu secara permanen melalui mekanisme lelang.
Sementara menunggu proses tender, alat berat berupa ekskavator tetap disiagakan untuk mengeruk material pasir dan batu yang kerap menutup saluran irigasi, terutama saat terjadi hujan deras.
Warga berharap kolaborasi antara upaya darurat berbasis kearifan lokal melalui dekem dan intervensi pemerintah pusat dapat segera memulihkan sistem irigasi, sekaligus mengembalikan produktivitas pertanian di kawasan Merawu.
Penulis : Baskoro
Editor : azizah











