BANJARNEGARA– Senyum yang sempat terkubur bersama material tanah di Dusun Situkung kini perlahan kembali merekah. Di tengah dinginnya udara Kecamatan Pandanarum, sebuah babak baru dimulai bagi 193 warga yang menjadi penyintas bencana tanah longsor.
Pada Jumat (24/04/2026), Komplek Hunian Sementara (Huntara) Desa Pandanarum menjadi saksi bisu momen penuh haru saat Pemerintah melalui Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) Provinsi Jawa Tengah menyalurkan bantuan total senilai Rp 2,895 Miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk 193 Kepala Keluarga, di mana masing-masing menerima stimulan sebesar Rp 15 juta guna menyusun kembali puing-puing kehidupan mereka yang sempat luluh lantak.
Bupati Banjarnegara, Amelia, yang hadir langsung menyerahkan bantuan secara simbolis, memberikan pesan menyentuh sekaligus tegas. Beliau menekankan bahwa dana yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Tengah Tahun Anggaran 2026 ini adalah amanah besar untuk memulihkan martabat warga.
“Uang ini adalah stimulan, sebuah pancingan agar Bapak dan Ibu sekalian bisa segera bangkit. Saya titip pesan dengan sangat, gunakan uang 15 juta ini hanya untuk kebutuhan material rumah. Jangan dipakai untuk ganti HP atau foya-foya,” tegas Bupati Amelia.
“Harapan saya besar, dalam waktu dekat suara palu dan gergaji sudah terdengar di lokasi pembangunan rumah permanen, sehingga tidak ada lagi warga yang berlama-lama di Huntara. Kita ingin martabat bapak-ibu kembali pulih di rumah sendiri yang lebih kokoh.
Suara dari Penyintas
Bagi para penyintas seperti Kirnoto, dana tersebut adalah tiket untuk pulang ke rumah yang layak. Dengan mata berkaca-kaca, ia tak henti-hentinya mengucap syukur atas bantuan yang diterima.
“Alhamdulillah, kados nampi jawah ing mangsa ketiga (seperti menerima hujan di musim kemarau). Selama ini kami tidur dengan rasa was-was dan ketidakpastian di pengungsian. Uang ini bagi saya sangat berarti untuk membeli semen dan bata agar anak-anak punya tempat berteduh yang tetap lagi,” ungkap Kirnoto
Sinergi Kemanusiaan
Penyerahan bantuan ini merupakan wujud nyata sinergi lintas instansi. Kehadiran jajaran petinggi mulai dari Deputi III BNPB, Kalakhar BPBD Jateng, hingga Pj. Sekda Banjarnegara menunjukkan bahwa Banjarnegara tidak sendirian dalam menghadapi ujian alam.
Kini, di balik perbukitan Pandanarum, optimisme mulai tumbuh. Bantuan ini bukan sekadar nominal rupiah, melainkan simbol bahwa solidaritas kemanusiaan tetap berdiri kokoh meski tanah di bawah kaki sempat goyah.
Suara pembangunan akan segera menggantikan sunyinya duka, menandai kembalinya kehidupan di lereng Pandanarum.(Bas)






