x

Bendungan Irigasi Clangap Rusak, 164 Hektare Sawah Linggasari Terancam Kekeringan

waktu baca 3 menit
Senin, 14 Sep 2026 21:15 22 redaksi

BANJARNEGARA, BeritaFakta.id — Kerusakan Bendungan Irigasi Clangap yang berada di wilayah Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian warga. Bendungan yang dibangun pada 1989 tersebut sebelumnya menjadi sumber pengairan sekitar 480 hektare sawah yang tersebar di tujuh desa di Kecamatan Banjarmangu, Madukara, dan Wanadadi.

Kerusakan bendungan tersebut terjadi setelah banjir Sungai Merawu pada 2023. Material yang terbawa arus diduga membuat bangunan bendungan tidak mampu menahan tekanan sehingga mengalami kerusakan dan mengganggu aliran irigasi ke lahan pertanian.

Salah satu wilayah yang merasakan dampak paling besar adalah Desa Linggasari, Kecamatan Wanadadi. Kepala Desa Linggasari, Siti Ernam, mengatakan sekitar 164 hektare lahan sawah di wilayahnya bergantung pada ketersediaan air irigasi.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga:"]

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian besar lahan pertanian mengalami kekeringan. Upaya pemerintah desa untuk mendorong pembangunan kembali jaringan irigasi juga telah dilakukan berulang kali.

“Ya, tentunya sangat kurang. Pengajuan sebenarnya sudah maksimal, dari mulai bulan Agustus, September, dan tadi informasi dari Pak Camat mau dibangun katanya beliau,” kata Siti Ernam, Sabtu (12/9/2026).

Ia mengatakan, usulan pembangunan perbaikan irigasi telah disampaikan kepada pemerintah daerah sejak lama. Namun, hingga kini sebagian lahan masih kesulitan mendapatkan pasokan air.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="2" judul="Baca Juga:"]

“Kami sudah usulkan dari dulu ke bupati, sudah lama banget. Dampaknya enggak hanya pada panen, untuk nyawah juga kering, mengalami kekeringan. Untuk panen hanya sebagian-sebagian dengan adanya air hujan. Tapi sekarang kan kemarau,” ujarnya.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap produksi padi petani. Padahal, menurut Ernam, masyarakat Linggasari sejak dahulu dikenal sebagai petani padi dan sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan komoditas tersebut.

Berbagai upaya alternatif telah dilakukan, termasuk melalui program irigasi perpompaan (irpom). Namun, program tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan karena kondisi geografis dan keterbatasan sumber air.

“Ya, sudah dikasih irpom, tapi ada yang enggak ngangkat airnya karena terlalu curam. Jadi enggak ada masukan. Perangkat pun juga tidak panen. Di sini hanya di area kuburan saja, kalau desa lain masih bisa nyawah, di sini hanya sebagian kecil banget,” katanya.

Selain keterbatasan air, biaya produksi pertanian yang terus meningkat juga menjadi persoalan. Harga pupuk dan kebutuhan operasional membuat hasil panen yang tidak maksimal semakin membebani petani.

“Sekarang sedikit banget. Panen saja enggak maksimal antara operasional dengan pemasukannya. Operasionalnya besar, pupuknya sudah mahal, pokoknya biaya operasional sudah mahal,” ungkapnya.

Ernam menyebut, masyarakat sebenarnya telah mencoba mengembangkan tanaman selain padi, termasuk jagung. Namun, upaya tersebut belum dilakukan secara luas karena karakter pertanian di Linggasari sejak dahulu lebih cocok dan terbiasa dengan tanaman padi.

“Susah kalau di sini, dari dulu padi terus. Memang dari dulu padinya terkenal enak. Kalau dialihkan yang lain belum. Terus dicoba jagung, tapi hanya sebagian kecil. Di sini mati hidup padi,” ujarnya.

Penggunaan pompa secara mandiri juga dinilai belum menjadi solusi efektif. Kebutuhan bahan bakar yang besar tidak sebanding dengan luas lahan yang dapat diairi.

“Sekarang dengan menghabiskan bensin atau solar 10 liter, kan hanya beberapa kotak. Kan rugi sudah. Kemarin saja, maaf, pakai irpom, airnya belum ngangkat. Dulu padahal ada B.T.W. sifon, terus di situ dibuat sumur oleh warga. Kemudian ada irpom, itu belum ngangkat juga kemarin, padahal mereka siap bareng-bareng beli bensin,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah desa berharap pembangunan kembali Bendungan Irigasi Clangap beserta sistem pengairannya segera direalisasikan. Menurut Ernam, perbaikan irigasi menjadi kebutuhan mendesak untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian sekaligus menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.

“Harapannya cepat dibangun. Jangka panjangnya, tapi kan kita butuh irigasi,” pungkasnya. (Bas)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x