x

Ujungan Gumelem, Ritual Leluhur Memohon Hujan yang Kini Didorong Jadi Warisan Budaya

waktu baca 3 menit
Sabtu, 26 Sep 2026 07:18 74 redaksi

Banjarnegara, Berita Fakta.id— Di tengah musim kemarau, masyarakat Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, kembali menghidupkan tradisi Ujungan, kesenian sekaligus ritual leluhur yang secara turun-temurun dipercaya sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan.

Tradisi tersebut digelar di Lapangan Krida Manunggal, Desa Gumelem Wetan, Jumat (25/9/2026). Dua petarung Ujungan saling berhadapan di tengah arena. Diiringi gamelan dan sorak penonton, keduanya lebih dulu menampilkan gerakan tari sebelum saling menyabetkan rotan pada bagian kaki.

Meski sekilas tampak seperti pertarungan fisik, Ujungan memiliki nilai budaya yang jauh lebih luas. Tradisi ini menjadi bagian dari warisan leluhur masyarakat Gumelem yang hingga kini masih dipertahankan dan diwariskan lintas generasi.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="1" judul="Baca Juga:"]

Gelaran Ujungan diinisiasi pemerintah desa bersama tokoh adat. Para pendekar tidak hanya berasal dari Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon, tetapi juga dari sejumlah desa sekitar hingga wilayah Purbalingga dan Banyumas.

Tokoh adat Gumelem, Budi Sulistyo, mengatakan Ujungan memiliki aturan yang harus dipatuhi setiap peserta. Sportivitas menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut karena pertarungan bukan untuk mencari permusuhan.

“Peserta wajib mematuhi aturan dan wajib mempertunjukkan tari sebelum atau sesudah saling sabet. Tidak ada dendam. Setelah bertarung mereka berdamai, bersalaman dan berpelukan,” ujarnya.

[bacajuga berdasarkan="category" mulaipos="2" judul="Baca Juga:"]

Seiring perkembangan zaman, aturan Ujungan juga diperketat untuk menjaga keselamatan peserta. Sejak sekitar 1980, sasaran sabetan rotan dibatasi dari bagian paha ke bawah. Panitia juga menyiapkan tim pengobatan di lokasi pelaksanaan.

Menurut Budi, tradisi tersebut memiliki kaitan erat dengan ikhtiar masyarakat dalam menghadapi musim kemarau. Pelaksanaannya dilakukan pada Jumat Kliwon dan dapat kembali digelar apabila hujan belum turun.

“Ritual ini kita mulai pada hari ini, Jumat Kliwon. Kalau besok langsung turun hujan, Jumat depan sudah tidak ada lagi. Tapi kalau belum turun hujan, akan dilanjutkan pada Jumat berikutnya,” terangnya.

Didorong Menjadi Warisan Budaya Tak Benda

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melihat Ujungan bukan sekadar pertunjukan tradisional, tetapi bagian dari identitas budaya lokal yang memiliki nilai sejarah dan kearifan masyarakat.

Sekretaris Daerah Banjarnegara, Hendro Cahyono, mengatakan keberadaan tradisi leluhur seperti Ujungan perlu terus dirawat agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Tentunya kami harapkan ini diuri-uri terus agar bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang,” katanya.

Upaya pelestarian itu juga diarahkan pada pengakuan Ujungan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Pemkab Banjarnegara telah mengusulkan Ujungan untuk mendapatkan penetapan sebagai WBTB.

Kepala Disparbud Banjarnegara, Tursiman, mengatakan tidak hanya Ujungan yang sedang diperjuangkan. Tiga potensi budaya lokal lainnya, yakni Batik Gumelem, Keramik Klampok, dan Dawet Ayu, juga diusulkan menjadi WBTB.

“Kita sudah mengusulkan Ujungan, Batik Gumelem, Keramik Klampok dan Dawet Ayu untuk ditetapkan menjadi WBTB. Harapannya, dari potensi lokal ini akan ada *multiplier effect* menjadi daya tarik wisata dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Tursiman.

Dengan tetap mempertahankan nilai dan tata cara aslinya, Ujungan kini tidak hanya menjadi ritual masyarakat Gumelem dalam memohon hujan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif, memperkenalkan budaya leluhur kepada generasi muda, sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis budaya di Banjarnegara. (Bas)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x