Komisi lV DPRD Kabupaten Banjarnegara saat laksanakan kunjungan kerjanya di SD Negeri 1 Suwidak, nampak Dedi Suromli Ketua Komisi lV dari Fraksi PKS dan Sugijen Wakil Ketua dari fraksi Golkar sekaligus pemangku Dapil V saat berada di lokasi revitalisasi dengan Korwilcam Dindikpora Wanayasa.(Dok.Berita Fakta) 
Banjarnegara, BeritaFakta.id — Komisi IV DPRD Kabupaten Banjarnegara melakukan kunjungan kerja ke wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) V, Kecamatan Wanayasa, Jumat (2/10/2026). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan, khususnya terhadap pembangunan infrastruktur pendidikan melalui program revitalisasi sekolah tahun 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV yang membidangi pendidikan menyambangi Pustu Desa Pagergunung serta SD Negeri 1 Suwidak, Kecamatan Wanayasa. Di SD Negeri 1 Suwidak, rombongan melihat secara langsung progres pembangunan revitalisasi sekolah yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Banjarnegara dari Fraksi Golkar, Sugijen, yang merupakan anggota dewan dari Dapil V, mengatakan revitalisasi SDN 1 Suwidak menjadi perhatian karena sebelumnya bangunan sekolah tersebut pernah mengalami ambles dan sempat terjadi pemutusan kontrak.
“Ini satu kita mendapatkan bantuan revitalisasi. Jadi, dulu pernah ambles, kemudian dimulai dari nol lagi karena sebelumnya putus kontrak. Ini sebenarnya cukup berkah. Namun, harapan kita, keterlibatan masyarakat, transparansi, dan kualitas bangunannya harus baik,” ujar Sugijen.

Menurutnya, masyarakat perlu dilibatkan dalam proses pembangunan sehingga penggunaan anggaran revitalisasi dapat berjalan secara transparan dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Semua masyarakat harus berperan, harus transparan. Karena apa? Ini dana revitalisasi. Sekilas bangunannya bagus, tetapi coba kita lihat ke depan. Semoga menjadi hal yang baik dan berkah buat kita semua,” katanya.
Sugijen menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, total anggaran revitalisasi SDN 1 Suwidak mencapai sekitar Rp1,023 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp970 juta dialokasikan untuk pembangunan fisik.
“Sekarang ini tinggal plafonnya. Informasi anggarannya Rp1,023 miliar dan untuk pembangunan fisik Rp970 juta. Ini sudah bagus dan tinggal beberapa hal lagi,” jelasnya.
Ia berharap setelah pembangunan fisik selesai, perhatian juga diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama tenaga pendidik. Menurutnya, pembangunan sarana dan prasarana sekolah perlu berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pendidikan.
“Setelah dibangun fisiknya, tinggal SDM-nya diperbaiki untuk kenaikan IPM. Disampaikan rekan tadi juga, selain fisik, kualitas pendidikannya juga harus dinaikkan,” ujarnya.
DPRD Soroti RAB dan Keterlibatan Masyarakat
Sugijen menambahkan, pengawasan Komisi IV tidak hanya melihat hasil fisik bangunan, tetapi juga akan mencermati dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) serta keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
“Untuk kualitas pekerjaan, nampak cukup baik. Tinggal kita lihat RAB-nya nanti. Saya juga akan melihat keterlibatan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, program revitalisasi sekolah dari pemerintah pusat harus dimanfaatkan secara optimal karena pembangunan tersebut tidak dilakukan berulang kali dalam waktu dekat.
“Kenapa pemerintah pusat menggelontorkan dana sekian untuk revitalisasi sekolah? Karena ini hanya satu kali, jadi tidak bolak-balik membangun. Keterlibatan masyarakat itu selain untuk pemenuhan pembangunan, juga memberikan efek ekonomi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, keberadaan proyek revitalisasi dapat memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar melalui penggunaan material maupun tenaga kerja lokal.
“Seperti material, tenaga kerja, ini kan padat karya,” imbuh Sugijen.
Ketua Komisi IV Soroti Warna Cat Sekolah.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Banjarnegara dari Fraksi PKS, Dedi Suromli, turut menanggapi tampilan SDN 1 Suwidak yang menggunakan warna cat ungu tua, berbeda dengan warna yang lazim digunakan sejumlah sekolah.
Dengan nada ringan, Dedi menyebut pemilihan warna tersebut kemungkinan merupakan upaya pihak sekolah untuk menghindari kesan keterkaitan dengan warna tertentu.
“Barangkali kepala sekolah dan dewan guru itu takut berafiliasi dengan warna-warna tertentu. Kalau warnanya si A, itu partai A, dan kalau warnanya B nanti dikira partai B,” ujar Dedi.
Namun, ia menilai penggunaan warna tersebut justru dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi lingkungan sekolah.
“Cuma ini menjadi warna yang menarik dan menjadi daya tarik tersendiri di Kabupaten Banjarnegara,” katanya.
Dedi menekankan agar kreativitas anak tidak dibatasi oleh persoalan warna. Menurutnya, lingkungan pendidikan seharusnya dapat memberikan ruang bagi anak untuk berkembang dengan berbagai karakter dan kecenderungannya.
“Jangan batasi kreativitas anak itu dengan sebuah warna. Karena anak-anak akan memiliki kecenderungan yang multiple. Jadi, agar bisa mengoptimalkan semuanya, apalah arti sebuah warna,” pungkasnya. (Bas)
Tidak ada komentar