x

Cegah Perundungan, SMPN 14 Tangsel Tugaskan Dua Siswa Jadi “Duta Sahabat” di Setiap Kelas

waktu baca 4 menit
Jumat, 9 Okt 2026 09:28 71 redaksi

TANGERANG SELATAN, BeritaFakta.id – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman terus dilakukan SMP Negeri 14 Kota Tangerang Selatan. Salah satu langkah yang diterapkan sekolah tersebut adalah menugaskan dua siswa di setiap kelas sebagai “Duta Sahabat SMPN 14” untuk membantu mengawasi perilaku perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.

Kepala SMPN 14 Kota Tangerang Selatan, Saeful, M.Pd., menyampaikan bahwa para siswa yang ditunjuk sebagai Duta Sahabat mengenakan rompi khusus sebagai identitas. Keberadaan mereka diharapkan dapat membantu membangun kepedulian antarsiswa sekaligus mendorong terciptanya pergaulan yang sehat.

“Setiap kelas, kita sudah siapkan dua siswa yang memakai rompi sebagai Duta Sahabat SMPN 14 dalam mengawasi siswa lainnya yang melakukan bullying,” ujar Saeful saat ditemui awak media BeritaFakta.id di ruang kerjanya, Kamis pagi (8/10/2026).

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam mencegah perundungan sekaligus menumbuhkan budaya saling menghormati di antara peserta didik.

Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman bagi Siswa

Saeful mengaku prihatin terhadap kasus perundungan yang menimpa seorang siswa kelas II SD Negeri 03 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang diberitakan berujung pada meninggalnya korban. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap anak di lingkungan pendidikan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak.

Menurutnya, sekolah bukan sekadar tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang bagi anak untuk tumbuh, membangun karakter, menjalin pertemanan, dan mengembangkan potensi diri.

“Sekolah adalah tempat belajar untuk mendapatkan ilmu. Seorang siswa harus merasakan aman dan nyaman, serta dididik dengan kasih sayang, bukan hanya dengan aturan. Sekolah adalah tempat kedua setelah rumah sebagai wadah bergaul dan belajar dalam meraih prestasi,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pembentukan karakter siswa perlu dilakukan melalui pendekatan yang mengedepankan kepedulian, keteladanan, dan penghargaan terhadap sesama. Dengan demikian, setiap siswa diharapkan dapat belajar tanpa rasa takut terhadap ancaman, ejekan, intimidasi, maupun tindakan perundungan.

Deklarasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Dengan jumlah siswa mencapai ratusan orang, SMPN 14 Tangsel yang berada di kawasan permukiman warga, tidak jauh dari Kantor Kelurahan Pondok Kacang Barat, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, juga mengusung Deklarasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Deklarasi tersebut menekankan pentingnya kebersamaan dan sikap saling menghargai dalam kehidupan sekolah. Prinsip ini diharapkan menjadi landasan bagi siswa untuk membangun hubungan pertemanan yang positif, berperilaku baik, serta memiliki semangat belajar dalam menggapai cita-cita.

Program Duta Sahabat menjadi salah satu upaya untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari di kelas. Melalui keterlibatan siswa, kepedulian terhadap teman diharapkan tumbuh dan tindakan perundungan dapat lebih cepat diketahui untuk kemudian ditangani oleh pihak sekolah.

Meski demikian, upaya pencegahan perundungan tidak dapat dibebankan kepada siswa yang menjadi Duta Sahabat semata. Peran guru, wali kelas, tenaga kependidikan, orang tua, dan seluruh warga sekolah tetap diperlukan agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti secara tepat dan bertanggung jawab.

Pendekatan Humanis, Tegas Tanpa Merendahkan

Saeful dikenal mengedepankan pendekatan humanis dalam mendidik siswa. Baginya, pelanggaran tata tertib perlu ditangani secara tegas, tetapi tetap dengan cara yang tidak merendahkan martabat anak.

Pengalamannya sebagai kepala sekolah di SMPN 7 dan SMPN 19 menjadi bekal dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih baik, baik dari sisi prestasi akademik maupun pembentukan karakter.

“Saat saya menghadapi seorang siswa yang melanggar tata tertib sekolah, saya ajak ngobrol sambil sesekali bercanda sehingga siswa itu tidak terpojokkan meski dia salah. Namun, saya juga membangun mentalnya agar perilaku yang tidak baik jangan diulangi kembali,” tutur Saeful.

Pendekatan tersebut, menurutnya, bertujuan agar siswa memahami kesalahan sekaligus memiliki kesempatan untuk memperbaiki perilakunya. Ketegasan tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang membuat anak merasa dipermalukan, melainkan dapat dilakukan dengan dialog, pembinaan, dan pendampingan.

Dalam konteks pencegahan perundungan, pendekatan ini penting agar siswa berani menyampaikan persoalan yang dialami maupun disaksikannya. Lingkungan yang terbuka dan tidak menghakimi diharapkan dapat membantu sekolah merespons persoalan sejak dini.

Kolaborasi Membangun Pendidikan yang Lebih Baik

Usai wawancara, Saeful melanjutkan agenda dengan menerima kunjungan anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar, Rachmat, S.H., yang datang ke SMPN 14 Tangsel dengan sejumlah agenda. Awak media turut menyambut kedatangan wakil rakyat tersebut.

Kunjungan itu menjadi bagian dari aktivitas di lingkungan sekolah yang diharapkan dapat mendukung upaya bersama dalam membangun pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Kota Tangerang Selatan.

Melalui program Duta Sahabat dan Deklarasi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, SMPN 14 Tangsel berupaya menanamkan pemahaman bahwa sekolah harus menjadi tempat yang melindungi, bukan menakutkan; tempat untuk bertumbuh, bukan saling menjatuhkan.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Saeful: “Bersama kita ciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman.”

(Red/AMS)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x