x

Pemkab Banjarnegara Siapkan Pendampingan UPLAND Selama Dua Tahun

waktu baca 2 menit
Sabtu, 7 Nov 2026 10:23 18 redaksi

BANJARNEGARA, Berita Fakta.id – Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyiapkan pendampingan selama dua tahun untuk menjaga keberlanjutan program UPLAND setelah pelaksanaannya berakhir pada 2026. Pendampingan difokuskan pada penguatan kelembagaan petani, pengelolaan sarana pertanian, pengolahan hasil, dan perluasan pemasaran.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, dalam forum Monitoring dan Evaluasi Program The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) di Rejasa Room, Surya Yudha Park, Jumat (6/11/2026).

Amalia mengatakan, program UPLAND telah berjalan selama enam tahun sejak 2021. Banjarnegara menjadi satu dari 14 kabupaten di Indonesia yang menerima program Kementerian Pertanian tersebut, dengan sasaran delapan kecamatan dan 33 desa.

Menurutnya, berakhirnya program tidak boleh menghentikan manfaat pembangunan yang telah dilakukan. Karena itu, Pemkab mengambil langkah lanjutan melalui pendampingan selama dua tahun ke depan.

“Alhamdulillah, program UPLAND sudah berjalan enam tahun di Kabupaten Banjarnegara. Untuk memastikan program ini berjalan sebagaimana mestinya, kami melanjutkannya dengan program pendampingan Pemkab selama dua tahun ke depan,” ujarnya.

Pendampingan mencakup kegiatan budi daya, pengolahan pascapanen, penguatan kelembagaan petani, hingga pengembangan rantai pasok dan pemasaran.

Amalia menambahkan, UPLAND tidak hanya membangun infrastruktur pertanian seperti Jalan Usaha Tani (JUT) dan jaringan irigasi, tetapi juga mendorong perubahan pola pengelolaan usaha tani menjadi lebih modern dan terintegrasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan pendampingan diperlukan agar infrastruktur, teknologi, dan fasilitas pengolahan yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal.

UPLAND di Banjarnegara mengembangkan dua komoditas utama, yakni kopi dan peternakan. Khusus kopi, sebagian besar tanaman belum memasuki masa panen raya sehingga membutuhkan pendampingan dari hulu hingga hilir.

“Saat panen raya tiba, seluruh fasilitas pengolahan, korporasi petani, hingga akses pasar diharapkan sudah siap digunakan,” jelasnya.

Firman menjelaskan, program ini juga mendorong petani membangun sistem korporasi. Hasil panen dihimpun, diolah bersama, kemudian dipasarkan menggunakan merek kolektif untuk meningkatkan nilai tambah, menjaga mutu, dan memperkuat posisi tawar petani.

Selain kopi, pengembangan peternakan juga mencakup manajemen pembiayaan, penyediaan pakan, serta pemanfaatan hasil samping peternakan, termasuk bulu Domba Batur.

Melalui pendampingan tersebut, Pemkab berharap hasil program UPLAND dapat berkembang menjadi usaha pertanian terpadu yang produktif, mandiri, dan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi petani. (Bas)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
x