BANJARNEGARA– Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, puluhan pegiat lingkungan di Kabupaten Banjarnegara menggelar aksi nyata bersih-bersih Sungai Nyangko di Desa Cendana, Kecamatan Banjarnegara pada Kamis (18/6/2026) kemarin.
Aksi resik-resik sungai yang menjadi urat nadi kehidupan ini diikuti oleh kolaborasi apik dari berbagai elemen. Mulai dari para kader perwakilan Sekolah Adiwiyata, relawan lingkungan, hingga masyarakat setempat bahu-membahu menyisir aliran sungai sepanjang kurang lebih 100 meter, serta membuat lubang biopori untuk konservasi air.
Sungai Nyangko merupakan potret sungai alami yang memiliki peran strategis. Aliran airnya berhulu di wilayah Sigalayan (Sigaluh) dan membelah kawasan berbukit di bagian selatan sebelum bermuara di Sungai Serayu.
Desa Cendana sendiri menjadi desa terakhir yang berbatasan langsung dengan lahan Perhutani, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu titik hulu atau “pucuk” Daerah Aliran Sungai (DAS).
Meski memiliki lebar yang relatif kecil sekitar 6 meter sungai ini sejatinya memiliki air yang sangat jernih dan bersumber dari mata air alami. Sayangnya, keindahan dan kelestarian sungai ini kerap terancam oleh perilaku buang sampah sembarangan.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPPKPLH) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, mengungkapkan bahwa gerakan ini bertujuan memicu kesadaran kolektif masyarakat. Sungai yang jernih seharusnya dijaga dan dinikmati, bukan dijadikan tempat pembuangan.
“Gerakan ini adalah sampling untuk bersama-sama menyadarkan masyarakat. Kita memiliki sungai yang alami dan jernih, namun sayangnya, kesadaran untuk menjaga lingkungan kita sendiri masih harus terus dipupuk,” ujar Herrina Jum,at (19/6/2026).
Ada pemandangan miris sekaligus ironis yang ditemukan para relawan di lapangan. Sampah yang menumpuk di sekitar lokasi ternyata didominasi oleh praktik ilegal dumping (pembuangan sampah ilegal) di daratan tepi sungai, ketimbang sampah yang hanyut di aliran air.
Mirisnya, salah satu titik tumpukan sampah dipicu oleh adanya pemilik lahan yang sengaja memperbolehkan warga membuang sampah di tanahnya. Tujuannya adalah untuk menguruk (ngurug) agar lahan menjadi rata dan siap dibangun.
Pola pikir keliru ini langsung diluruskan oleh tim DPPKPLH di lapangan. Menguruk tanah menggunakan sampah rumah tangga terutama sampah plastik warung dan dapur sangat berbahaya karena berisiko merusak kualitas tanah di bawahnya, menyebabkan tanah ambles, serta memicu munculnya gas metana yang mudah meledak.
Tak hanya sampah plastik, relawan bahkan menemukan kasur bekas yang sengaja dibuang ke kawasan tersebut. Fenomena ini memperlihatkan budaya keliru yang masih tersisa di masyarakat, di mana barang peninggalan orang yang meninggal dunia kerap dilarung atau dibuang sembarangan ke sungai.
Aksi bersih-bersih ini tidak berhenti pada pengangkutan sampah semata. Usai membersihkan area sungai dan titik illegal dumping, tim langsung memasang plang larangan keras membuang sampah di kawasan tersebut sebagai langkah penegasan regulasi dari hulu ke hilir.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi sehat bersama masyarakat dan perangkat RT/RW setempat.
Keterbatasan armada pengangkut sampah di tingkat desa sempat menjadi kendala, namun diskusi tersebut berhasil melahirkan komitmen bersama. Warga didorong untuk mulai menginisiasi iuran operasional pengelolaan sampah secara mandiri demi mewujudkan Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) yang representatif.
Untuk memastikan pengawasan berjalan masif dan berkelanjutan, DPPKPLH Banjarnegara kini tengah menggandeng pihak Desa untuk merekrut kader lingkungan di tiap desa. Nantinya, masing-masing desa akan dikawal oleh dua orang kader asli daerah setempat.
“Kalau hanya diundang rapat atau sosialisasi, sering kali setelah itu lupa. Tetapi dengan adanya dua kader asli daerah di tiap desa, mereka bisa mengedukasi keluarga dan tetangganya setiap hari, sekaligus memonitor lingkungan secara langsung. Ini akan jauh lebih mengena,” kata Herrina
Bagi warga dan pegiat lingkungan setempat, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah kampung. Ia adalah nadi kehidupan yang harus dijaga agar tetap mengalir membawa keberkahan. Setiap sampah yang diangkat dari dasar kali seolah menjadi doa yang dipanjatkan kepada bumi, agar alam tetap bersahabat dengan manusia.
Slamet Riyadi, warga setempat yang juga bertindak sebagai pendamping kegiatan, menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak harus menunggu langkah besar, melainkan dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
“Lingkungan yang bersih bukanlah warisan dari leluhur, melainkan titipan bagi anak cucu kita. Hari ini adik-adik telah menunjukkan bahwa mencintai bumi bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata. Aksi bersih kali dan pembuatan biopori ini mungkin sederhana, tetapi jika dilakukan bersama dan berkelanjutan, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan,”ujar Slamet Riyadi.
Kegiatan bersih sungai seperti ini sebelumnya juga sukses digalakkan di beberapa titik kritis lain seperti Semampir dan Blambangan dengan melibatkan Pokdarwis, Karang Taruna, serta sekolah-sekolah Adiwiyata.(**).






