Oleh: dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa
Dalam cakrawala ilmu kedokteran modern, paradigma kesehatan tengah mengalami pergeseran yang sangat fundamental. Selama ini, banyak orang terfokus pada usia kronologis—angka yang tercantum dalam akta kelahiran. Padahal, dari sudut pandang medis, usia biologis seseorang dapat berbeda jauh dari usia kronologisnya.
Tubuh manusia sesungguhnya merupakan sebuah mosaik biologis yang dinamis. Jantung, hati, otak, dan organ-organ lainnya dapat mengalami proses penuaan dengan kecepatan yang berbeda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk bagaimana gen-gen dalam tubuh “menyala” dan “padam” melalui mekanisme modifikasi epigenetik.
Memahami Precision Ageing
Sebuah artikel bertajuk Precision Ageing yang termuat dalam literatur medis mutakhir mengungkap sebuah paradigma baru: masa depan kedokteran tidak lagi sekadar mengobati penyakit, melainkan mengukur secara presisi organ atau sistem tubuh mana yang mengalami penuaan lebih cepat, sekaligus memahami faktor penyebabnya.
Kemajuan teknologi epigenetik kini memungkinkan para ilmuwan membaca apa yang dikenal sebagai “jam epigenetik” (epigenetic clock). Teknologi ini terus berkembang dari generasi ke generasi.
Generasi kedua, seperti PhenoAge dan GrimAge, telah mampu menghubungkan berbagai biomarker dengan risiko penyakit, memprediksi harapan hidup, serta menilai status kesehatan seseorang dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Sementara itu, generasi terkini seperti DunedinPACE bahkan mampu mengukur kecepatan penuaan itu sendiri, yakni apakah seseorang menua sesuai usia kronologisnya atau justru mengalami percepatan penuaan.
Berbagai faktor diketahui berperan sebagai acceleration drivers atau pemicu percepatan penuaan, di antaranya inflamasi kronis, gangguan metabolik, kurang tidur, pola makan yang buruk, hingga stres yang tidak terkelola dengan baik.
Sintesis Sains Modern dan Kearifan Lokal
Dalam perspektif filsafat Jawa, konsep ini memiliki keselarasan dengan ungkapan urip iku mung mampir ngombe—hidup hanyalah singgah untuk sejenak menikmati seteguk air. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa kehidupan bersifat sementara sekaligus sangat berharga.
Namun, dalam konteks Precision Medicine, manusia tidak sekadar “mampir”, melainkan berupaya memahami mekanisme biologis kehidupan itu sendiri, termasuk bagaimana menjaga tubuh agar tetap harmonis dengan perjalanan waktu.
Sebagai praktisi bedah sekaligus peneliti biomolekuler, penulis mengembangkan metodologi BiSQuAT (Biological Smart Quick Action Treatment). Metodologi ini dirancang untuk menstandardisasi berbagai protokol perawatan regeneratif dengan tingkat presisi yang tinggi.
Dalam budaya Jawa dikenal pula prinsip titi, yang bermakna teliti, tepat, dan presisi. Nilai inilah yang menjadi esensi kedokteran presisi modern. Pendekatan “satu obat untuk semua” secara perlahan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh intervensi yang lebih terarah, disesuaikan dengan profil biologis, pola metilasi DNA, serta karakteristik unik setiap individu.
Pendekatan tersebut merupakan bentuk nyata dari upaya ngruketi—merawat dan menjaga amanah kesehatan yang dititipkan Sang Pencipta—selaras dengan filosofi Sangkan Paraning Dumadi, yakni kesadaran akan asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.
Langkah ke Depan
Kesehatan sejatinya bukan sekadar ketiadaan penyakit, melainkan kondisi optimal yang memungkinkan tubuh menopang jiwa agar tetap tenang, produktif, dan bermakna.
Saat ini, pemeriksaan usia biologis semakin mudah diakses melalui analisis darah maupun sampel air liur. Namun demikian, teknologi hanyalah alat bantu. Kunci utama tetap terletak pada konsistensi dalam memperbaiki gaya hidup, mulai dari pola makan yang sehat, aktivitas fisik yang teratur, kualitas tidur yang baik, hingga kemampuan mengelola stres.
Dengan mengintegrasikan sains modern dan nilai-nilai luhur kearifan lokal, manusia diharapkan mampu mencapai kasampurnan dalam kesehatan—suatu kondisi ketika usia panjang tidak hanya diukur dari lamanya hidup, tetapi juga dari kualitas kehidupan yang dijalani.
Pada akhirnya, setiap detik yang kita lalui adalah kesempatan untuk menjaga kualitas hidup agar tetap paripurna, sehingga kita tidak hanya hidup lebih lama, tetapi juga hidup dengan sehat, bermakna, dan optimal.
Penulis adalah dokter spesialis bedah, Master of Science in Medicine, peneliti biomolekuler, serta kandidat doktoral.






