Oleh: dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., C.PFW., C.MDF., C.JKJ
Di tengah persaingan hidup yang semakin kompleks, stres dan kecemasan sering menjadi tantangan besar dalam menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk dalam mencari nafkah. Bagi penyandang disabilitas fisik, khususnya tunadaksa, tantangan tersebut sering kali berlipat ganda. Keterbatasan mobilitas, hambatan akses, hingga stigma sosial dapat memicu perasaan minder, tidak berdaya, bahkan putus asa.
Ketika energi mental terkuras untuk meratapi keadaan, potensi diri yang sesungguhnya sering kali tidak berkembang secara optimal. Padahal, Islam menawarkan sebuah amalan sederhana namun memiliki dampak yang luar biasa, yaitu shalat Dhuha yang dilakukan secara istiqamah.
Shalat Dhuha bukan hanya ibadah yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki manfaat psikologis yang dapat membantu seseorang membangun ketenangan batin dan optimisme dalam menjalani kehidupan.
Dari sudut pandang ilmu kesehatan, ketenangan yang diperoleh melalui aktivitas ibadah, doa, meditasi, maupun refleksi diri dapat membantu menurunkan tingkat stres. Ketika seseorang berwudhu, melaksanakan shalat dengan khusyuk, serta menghadirkan rasa syukur dan harapan kepada Allah SWT, tubuh cenderung memasuki kondisi relaksasi yang berdampak positif terhadap kesehatan mental.
Kondisi tersebut dapat membantu menurunkan ketegangan emosional, meningkatkan suasana hati, serta memperkuat kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dalam ilmu neurosains, otak manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk pola-pola baru yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Melalui kebiasaan positif yang dilakukan secara berulang, seseorang dapat membangun pola pikir yang lebih sehat, optimistis, dan produktif.
Bagi penyandang tunadaksa, shalat Dhuha yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana untuk membangun penerimaan diri (self-acceptance) dan kasih sayang terhadap diri sendiri (self-compassion). Fokus yang sebelumnya tertuju pada keterbatasan fisik perlahan bergeser menjadi kesadaran terhadap potensi, kemampuan, dan peluang yang masih dimiliki.
Perubahan cara pandang inilah yang sering menjadi titik awal munculnya kepercayaan diri. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan baik, ia akan lebih mudah melihat peluang, mengembangkan keterampilan, dan berani mengambil langkah-langkah baru dalam kehidupannya.
Ketenangan batin yang lahir dari ibadah juga dapat membantu meningkatkan fokus, kreativitas, serta kemampuan dalam mengambil keputusan. Banyak penyandang disabilitas yang berhasil membangun usaha mandiri, berkarya di bidang digital, industri kreatif, pendidikan, maupun berbagai sektor lainnya karena mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Dalam perspektif Islam, keutamaan shalat Dhuha telah dijelaskan dalam berbagai hadis. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, yang menjelaskan tentang keutamaan menjaga shalat Dhuha sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Selain itu, dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa dua rakaat shalat Dhuha dapat menjadi pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia.
Pesan utama dari berbagai ajaran tersebut adalah bahwa setiap hamba memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh keberkahan, ketenangan, dan pertolongan Allah SWT, terlepas dari kondisi fisik yang dimilikinya.
Pada akhirnya, rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk materi semata. Rezeki juga dapat berupa kesehatan batin, ketenangan jiwa, ide-ide kreatif, relasi yang baik, kesempatan berkarya, serta kemampuan untuk memberi manfaat kepada sesama.
Melalui shalat Dhuha yang dilakukan secara istiqamah, penyandang tunadaksa dapat membangun semangat hidup yang lebih kuat, menumbuhkan rasa percaya diri, serta mengembangkan potensi diri secara maksimal. Dengan izin Allah SWT, keterbatasan yang dimiliki bukan lagi menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan, melainkan menjadi jalan menuju kematangan pribadi, kemandirian, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.






