Brebes, Beritafakta.id – Di tengah carut marut pembagian bansos, istri kepala desa di Brebes justru masuk sebagai penerima bantuan. Selain bantuan beras, istri kades ini pun mendapat bantuan PKH.
Adalah Nur Hikmah, istri Kepala Desa (Kades) Kalimati, yang masuk dalam daftar penerima bantuan sosial (Bansos) sembako maupun Program Keluarga Harapan (PKH). Dia tercatat masuk daftar penerima bansos sejak 2022 lalu.
Petugas Operator Sistem Informasi Desa (SID) Kalimati, Munifah saat dikonfirmasi menerangkan, masuknya nama Nur Hikmah dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) merupakan warisan data lama. Setelah tercatat dalam DTKS, istri kades ini pun mendapat bantuan pangan dan PKH.
“Itu semacam warisan data lama. Nama istri kades masuk data pusat (DTKS) sejak 2019. Data tersebut mengikuti kepesertaan orang tuanya yang memang masuk kategori keluarga tidak mampu,” ungkap Munifah, Kamis (8/1/2026) di kantornya.
Data di Desa Kalimati, lanjut Munifah menyebut, istri kades tercatat mendapat bantuan pangan sejak 2022. Kemudian pada 2024, Nur Hikmah mendapat bantuan PKH.
“Sejak 2022 menerima bantuan pangan, dan 2024 berlanjut pada 2024 mendapat PKH,” lanjutnya.
Kepala Tim PKH Kabupaten Brebes, Hendrik Maulana membenarkan Nur Hikmah masuk penerima bansos. Namun, kata Hendrik, yang bersangkutan langsung diberikan edukasi dan pada akhirnya graduasi atau lepas dari penerima bansos.
“Memang benar masuk data penerima bansos. Tapi kami langsung memberikan edukasi dan akhirnya yang bersangkutan mau lepas (graduasi) pada 2024,” terang Hendrik.
Dikonfirmasi terpisah, Kades Kalimati, Lukmanul Hakim menegaskan, meski tercatat sebagai penerima bansos, istrinya tidak pernah menerima bantuan. Selama ada bantuan sosial, kata Kades Kalimati selalu diberikan kepada warga miskin yang tidak mendapat bansos.
“Tidak pernah mengambil. Bantuan selalu diberikan ke warga miskin yang tidak mendapat bantuan. Selama ini selalu diberikan ke Warmi,” tandasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, Warmi merupakan istri dari seorang penyandang disabilitas (tunawicara) yang bekerja sebagai buruh pencari rumput. Saat itu, keluarga Ibu Warmi belum tersentuh bantuan pemerintah sama sekali.
“Selalu dia (Warmi) yang mengambil bantuan,” pungkasnya.
(Rusmono)






