BANYUMAS – Di bawah langit Desa Baseh, sebuah desa di lereng utara Gunung Slamet, jarak tak lagi sekadar angka di atas peta. Di titik paling utara pelosok Kabupaten Banyumas ini, RSI Sultan Agung Semarang dan RSU Ananda Purwokerto membuktikan bahwa pengabdian medis tidak boleh terhenti oleh batas geografis maupun kekakuan birokrasi rujukan.
Narasi Pengabdian dari Lereng Gunung
Pagi itu, udara dingin wilayah Kedungbanteng seolah menghangat oleh keriuhan warga yang datang menjemput harapan. Melalui program bakti sosial yang menggandeng kader HMI Kesehatan dalam momentum Dies Natalis ke-79, RSI Sultan Agung dan RSU Ananda merajut jembatan kemanusiaan bagi masyarakat pelosok.
Bagi RSU Ananda, yang berada di bawah naungan PT Ananda Pancagati Setia Sejahtera, kolaborasi ini merupakan wujud komitmen untuk memperluas jejaring rujukan fast track. Sementara bagi RSI Sultan Agung, langkah ini menjadi manifestasi visi progresif Ketua YBWSA, Prof. Dr. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H., bahwa layanan kesehatan bukan sekadar industri, melainkan syiar Islam melalui pelayanan masyarakat yang inklusif.
Rujukan Tanpa Sekat, Berbasis Kompetensi
Di tengah perubahan kebijakan rujukan nasional yang kini berbasis kompetensi layanan, kedua rumah sakit ini melangkah lebih maju. Mereka tidak lagi menunggu pasien di balik meja pendaftaran, melainkan menjemput langsung hingga ke wilayah terpencil.
“Dunia kesehatan sedang berubah. Kini rujukan bukan lagi soal kelas bangunan, tetapi kompetensi layanan,” ujar salah satu perwakilan manajemen rumah sakit.
Dengan skema layanan BPJS, pasien kini memiliki keleluasaan memilih rumah sakit sesuai kebutuhan medisnya. Jarak Semarang dan Purwokerto yang terpisah ratusan kilometer kini dipangkas melalui kesepakatan ekosistem fast track yang terintegrasi.
Rel Kereta: Jembatan Besi Penyelamat Nyawa
Salah satu gagasan paling visioner dalam kerja sama ini adalah pelibatan PT Kereta Api Indonesia wilayah Semarang dan Purwokerto. Ke depan, pasien rujukan tidak lagi harus bertaruh nyawa di tengah kemacetan jalan raya.
Melalui sistem drop and carry antar stasiun, rel kereta api akan bertransformasi menjadi nadi transportasi medis yang memungkinkan pasien menjangkau layanan spesialis secara cepat, aman, dan presisi waktu.
Integrasi moda transportasi ini menjadi jawaban atas tantangan geografis Banyumas, memastikan bahwa masyarakat pelosok tetap memiliki akses terhadap kompetensi medis tertinggi di Semarang.
Sinergi dalam Spirit Islam
Kolaborasi antara dr. M.B. Gandhy Surya Dirgantara, Sp.An., M.Kes. dari RSU Ananda dan manajemen RSI Sultan Agung menjadi bukti bahwa ketika dua niat baik bertemu, sekat administratif dapat diluruhkan.
Bakti sosial di Desa Baseh ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah ekosistem kesehatan baru di Jawa Tengah. Sebuah ekosistem yang menegaskan bahwa siapa pun, bahkan warga yang tinggal di ujung lereng Gunung Slamet, tetap berhak memperoleh layanan kesehatan berkualitas dunia—yang dijalankan bukan hanya dengan teknologi, tetapi juga dengan hati.(ags)












