Hutan Lestari Pertamina: Menenun Harmoni Alam, Menuai Kesejahteraan Masyarakat.

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, beritafakta.id – Suara lonceng yang memecah keheningan di lereng Gunung Agung menjadi awal harapan baru. Di Pura Kancing Gumi, Bali, doa-doa dipanjatkan dari ketinggian 250 meter di atas permukaan laut, memohon keselamatan bagi alam semesta.

Namun, masyarakat di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih menyadari bahwa doa saja tidak cukup—harus diiringi dengan aksi nyata.

Melalui filosofi Tri Hita Karana—keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam—Pertamina menghadirkan Program Hutan Lestari. Inisiatif reforestasi pasca-erupsi Gunung Agung tahun 2017 ini tidak hanya menghijaukan kembali lereng yang sempat rusak, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

I Nyoman Artana, tokoh lokal di balik transformasi tersebut, menegaskan pentingnya menjaga kawasan Besakih sebagai Huluning Bali Rajya atau hulu Pulau Bali.

“Pengelolaan lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika tidak dijaga dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim,” ujarnya.

Upaya menjaga kawasan hulu ini pun membuahkan hasil. Kelompok binaan Nyoman kini mampu memproduksi 100 hingga 150 kilogram madu per tahun, dengan harga jual mencapai Rp500.000 per liter untuk madu kelanceng yang bernilai tinggi. Selain itu, sektor wisata alam di kawasan tersebut berkembang pesat dengan pendapatan kelompok mencapai Rp120 juta per bulan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi puluhan warga.

Semangat pelestarian alam ini juga tumbuh di Ulubelu, Lampung. Wastoyo, seorang warga setempat, menjadi contoh nyata perubahan pola pikir masyarakat terhadap hutan. Jika dahulu hutan menjadi sasaran eksploitasi, kini justru dijaga sebagai sumber kehidupan.

“Dulu, menebang pohon adalah cara instan untuk bertahan hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan,” kenangnya.

Perubahan terjadi setelah Pertamina menghadirkan Sekolah Hutan Lestari dan memberikan pendampingan kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Margo Rukun. Para mantan pemburu bertransformasi menjadi pelaku budidaya yang produktif. Mereka menanam 50.000 bibit pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) untuk mencegah erosi, serta mengolah limbah kopi menjadi pupuk berkualitas melalui unit Pertaganik Bestari.

Hasilnya signifikan. KUPS Margo Rukun kini mencatat omzet hingga Rp2,2 miliar per tahun. Produk bibit dan sistem budidaya lebah mereka bahkan telah diadopsi oleh sejumlah perusahaan multinasional sebagai standar rehabilitasi lahan di Lampung.

Kisah inspiratif lainnya datang dari pesisir selatan Jawa, tepatnya di Kampung Laut, Cilacap. Wahyono, seorang pegiat lingkungan, berhasil mengubah kawasan mangrove yang rusak akibat pembalakan liar menjadi ekosistem yang produktif.

“Dulu kawasan ini gersang. Saya yakin mangrove adalah ‘pabrik’ alami. Kini, keraguan warga telah hilang,” ujarnya.

Melalui pembibitan mandiri, Wahyono mampu memproduksi hingga 800 ribu bibit mangrove setiap tahun. Kawasan tersebut kini berkembang menjadi pusat eduwisata dan menjadi rujukan penelitian internasional dalam pemulihan ekosistem pesisir.

“Dulu saya dianggap gila, sekarang kita ‘gila’ bersama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu,” tambahnya.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan bahwa ketiga kisah tersebut merupakan bukti nyata komitmen Pertamina dalam mendukung kedaulatan pangan nasional, sejalan dengan visi pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto.

Program Hutan Lestari sendiri telah menanam lebih dari delapan juta pohon produktif dan mangrove, serta memberdayakan masyarakat melalui integrasi reforestasi, penguatan ekonomi, dan edukasi generasi muda.

“Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kemandirian masyarakat. Hutan tidak hanya dijaga agar tidak rusak, tetapi dirawat agar terus memberi kehidupan,” ujar Baron.

Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam mengakhiri kelaparan (SDG 2), mendorong konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), serta aksi terhadap perubahan iklim (SDG 13). Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai landasan Pertamina dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.

Penulis : **

Editor : Azizah Estetika

Berita Terkait

Dukung Pendidikan Karakter, BPR BKK Mandiraja Dukung Program Penguatan Integritas Siswa Antikorupsi di Banjarnegara
BAZNAS Kota Tangerang Cetak Rekor ZIS Rp16,5 Miliar, Peringkat 2 Nasional
Bendungan Jlantah Karanganyar Siap Jaga Ketersediaan Air Saat Musim Kemarau
Brebes Bersiap Jadi Sentra Susu Nasional, Mentan Resmikan Pembangunan Peternakan Sapi Perah Terbesar di Indonesia
Fotografi Branding Jadi Senjata UMKM Betawi Menembus Pasar Digital, Creative 35 Gelar Workshop di Setu Babakan
KAGAMA Tangsel Gelar GAMA FEST & Charity Day 2026, Perkuat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Ketum FERADI WPI Bentuk Tim Hukum Kawal Laporan Dugaan Pengeroyokan Wakil Ketua Umum di Lebak
Jembatan Bailey Wih Kanis di Aceh Tengah Difungsikan, Konektivitas Masyarakat Kembali Pulih
Berita ini 14 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:07 WIB

Dukung Pendidikan Karakter, BPR BKK Mandiraja Dukung Program Penguatan Integritas Siswa Antikorupsi di Banjarnegara

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:26 WIB

BAZNAS Kota Tangerang Cetak Rekor ZIS Rp16,5 Miliar, Peringkat 2 Nasional

Senin, 20 Juli 2026 - 18:11 WIB

Bendungan Jlantah Karanganyar Siap Jaga Ketersediaan Air Saat Musim Kemarau

Senin, 20 Juli 2026 - 15:13 WIB

Brebes Bersiap Jadi Sentra Susu Nasional, Mentan Resmikan Pembangunan Peternakan Sapi Perah Terbesar di Indonesia

Senin, 20 Juli 2026 - 14:24 WIB

Fotografi Branding Jadi Senjata UMKM Betawi Menembus Pasar Digital, Creative 35 Gelar Workshop di Setu Babakan

Berita Terbaru