Kartono, Kakak Kartini yang Terlupakan: Jenius 37 Bahasa hingga Wartawan Perang Dunia

Kamis, 23 April 2026 - 15:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berita Fakta — Banyak orang mengenal Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Namun, di balik nama besar itu, ada sosok lain yang tak kalah luar biasa: kakak kandungnya sendiri, RM. Panji Sosrokartono—atau yang akrab dipanggil Kartono.

Jika Kartini adalah cahaya yang menerangi kesadaran perempuan, maka Kartono ibarat lentera sunyi—terang, tapi sering luput dari perhatian.

Kartono lahir pada tahun 1877. Ia bukan hanya kakak dari RA Kartini, tetapi juga pelopor yang menembus batas pendidikan kolonial.

Pada tahun 1898, Kartono menjadi salah satu pribumi pertama yang menempuh pendidikan tinggi di luar Hindia Belanda. Di tengah dominasi kaum Eropa, ia berdiri tegak, bukan sekadar ikut belajar, tapi justru mencuri perhatian.

Kecerdasannya membuat para dosen jatuh hati. Ia menguasai 27 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara—sebuah capaian yang bahkan hari ini pun terasa nyaris mustahil.

Tak heran, pria ini dijuluki “De Mooie Sos” oleh perempuan Eropa, yang berarti “Sos yang tampan”. Sementara kalangan Barat menyebutnya “The Javanese Prince”, sang Pangeran Jawa. Namun di tanah sendiri, ia tetap sederhana: Kartono.

Wartawan Perang yang Menolak Senjata

Memasuki tahun 1917, Kartono menjelma menjadi wartawan Perang Dunia I untuk harian Amerika, The New York Herald cabang Eropa.

Di medan yang penuh peluru dan propaganda, Kartono justru bermain dengan kata. Ia mampu memadatkan artikel bahasa Perancis menjadi 30 kata dalam empat bahasa sekaligus: Inggris, Spanyol, Rusia, dan Perancis.

Kemampuannya membuat Sekutu memberinya pangkat Mayor. Namun, ia menolak membawa senjata. Dengan tenang ia berkata:

“Saya tidak menyerang orang, oleh karena itu saya pun tidak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata?”

Kalimat itu seperti tamparan halus, bahwa keberanian tak selalu lahir dari moncong senapan.

Diplomat Senyap yang Mengguncang Dunia

Sebagai jurnalis, Kartono bukan sekadar peliput. Ia adalah pembongkar rahasia.

Ia pernah menggemparkan Eropa dan Amerika lewat laporannya tentang perundingan rahasia antara Jerman dan Perancis. Pertemuan itu berlangsung di dalam gerbong kereta di tengah hutan, dijaga ketat dari wartawan.

Namun entah bagaimana, hasil perundingan itu justru muncul di New York Herald. Kartono seperti bayangan—tak terlihat, tapi selalu ada di tempat paling penting.

Pada tahun 1919, ia menjadi penerjemah tunggal di Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB). Di sana, ia memimpin penerjemahan berbagai bahasa, mengungguli para poliglot Eropa dan Amerika.

Pulang sebagai “Orang Aneh” yang Dicintai Rakyat

Tahun 1925, Kartono pulang ke tanah air. Namun, kepulangannya bukan seperti bangsawan yang dielu-elukan, melainkan seperti pertapa yang memilih jalan sunyi.

Ki Hajar Dewantara mempercayainya menjadi kepala sekolah menengah di Bandung. Tapi cerita tak berhenti di ruang kelas.

Warga mulai berdatangan, meminta doa dan air. Anehnya, banyak yang mengaku sembuh. Dari situ, antrean makin panjang, bahkan hingga orang Eropa ikut datang.

Kartono kemudian mendirikan Klinik Darussalam. Di sana, ia dikenal mampu menyembuhkan hanya dengan sentuhan, bahkan di hadapan dokter yang sudah menyerah.

Aneh? Mungkin. Tapi begitulah Kartono, selalu berada di antara logika dan misteri.

Kartono bukan hanya dikenal masyarakat biasa. Tokoh-tokoh besar bangsa juga mengakui kecemerlangannya.

Soekarno muda kerap berdiskusi dengannya. Sementara Mohammad Hatta menyebutnya sebagai seorang jenius.

Di rumahnya, bendera merah putih berkibar—bahkan di masa penjajahan. Anehnya, Belanda, Jepang, hingga Sekutu seolah tak mengusiknya. Seakan ada “diam” yang lebih kuat dari perlawanan terbuka.

Wafat dalam Kesunyian, Kaya Tanpa Harta

Pada tahun 1951, Kartono wafat di Bandung. Ia dimakamkan di Sido Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, berdampingan dengan orang tuanya, Nyai Ngasirah dan RMA Sosroningrat.

Ironisnya, ia meninggal tanpa harta. Bahkan rumah pun hanya sewaan. Padahal, sebagai bangsawan dan intelektual kelas dunia, ia bisa saja hidup bergelimang kemewahan.

Tak ditemukan pusaka, tak ada jimat. Hanya selembar kain bersulam huruf Alif.

Di batu nisannya tertulis:

“Sugih Tanpo Bondho,
Digdaya Tanpo Aji-Aji.”

Kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat.

Nama Besar yang Nyaris Terlupakan

Kartono adalah wartawan hebat, namun namanya jarang disebut. Ia tokoh pendidikan, tapi seolah luput dari ingatan.

Ia seperti Alif, huruf pertama yang berdiri sendiri, tegak, sederhana, tapi menjadi awal dari segalanya.

“Sang Alif… Alif sak jeroning Alif…”

Berita Terkait

Semangat Hari Kartini, OJK Purwokerto Dorong Perempuan Banjarnegara Jadi Motor Literasi Keuangan
Demam Bukan Musuh: Simak Penjelasan Medis Dari Gejala Hingga Solusinya!
Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Disesuaikan, Bahlil: Tergantung Minyak Dunia
Bank BJB Sabet Penghargaan BEI, Tancap Gas di Pasar Alternatif
Kredit Tumbuh 10,42 Persen, Perbankan Tetap Melaju di Tengah Tekanan Global
Kereta Api dan Konektivitas Modern Di Papua Akan Terwujud
Satgas Perlindungan Jemaah Haji Terbentuk Untuk Masyarakat Indonesia
Kementerian PU Percepat Bendungan Cijurey dan Cibeet, Perkuat Pengendalian Banjir di Karawang dan Bekasi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 15:55 WIB

Kartono, Kakak Kartini yang Terlupakan: Jenius 37 Bahasa hingga Wartawan Perang Dunia

Kamis, 23 April 2026 - 09:43 WIB

Semangat Hari Kartini, OJK Purwokerto Dorong Perempuan Banjarnegara Jadi Motor Literasi Keuangan

Senin, 20 April 2026 - 18:13 WIB

Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Disesuaikan, Bahlil: Tergantung Minyak Dunia

Senin, 20 April 2026 - 18:03 WIB

Bank BJB Sabet Penghargaan BEI, Tancap Gas di Pasar Alternatif

Senin, 20 April 2026 - 17:54 WIB

Kredit Tumbuh 10,42 Persen, Perbankan Tetap Melaju di Tengah Tekanan Global

Berita Terbaru