Jakarta, beritafakta.id- UPK Setu Babakan menunjukkan komitmen kuat dalam melestarikan warisan budaya Nusantara dengan menjadi tuan rumah acara Lebaran Golok.
Kegiatan ini tak sekadar seremoni, ia menyala seperti bara yang sengaja dijaga agar tak padam di tengah terpaan zaman.
Selanjutnya, Komunitas Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) menginisiasi rangkaian “Goes to UNESCO” dan menggandeng UPK Setu Babakan sebagai mitra.
Kolaborasi ini berhasil menghadirkan suasana meriah dengan kehadiran berbagai komunitas dari sejumlah wilayah. Mereka tak hanya datang membawa golok, tetapi juga membawa cerita tentang sejarah yang enggan dilupakan.
Para peserta memamerkan beragam jenis golok di area Amphitheater. Ukurannya bervariasi, mulai dari 20 cm hingga mencapai satu meter. Setiap bilah tersusun rapi, seolah berbicara tanpa suara: tentang identitas, tentang warisan yang tak ingin hilang begitu saja.
Golok, Lebih dari Sekadar Senjata
Kemudian, panitia menggelar acara ini pada Minggu, 12 April 2026. Wali Kota Bogor turut hadir bersama sejumlah tokoh yang menginisiasi kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menegaskan bahwa budaya tak boleh sekadar menjadi pajangan, budaya harus hidup dan terus bergerak.
Golok bukan hanya alat tradisional masyarakat Nusantara. Golok mencerminkan keteguhan, kearifan lokal, dan karakter yang membentuk jati diri bangsa. Setiap ukiran pada bilahnya menyimpan filosofi yang tetap relevan, meski zaman terus berubah.
Di tengah arus globalisasi, masyarakat tak boleh larut dalam kenyamanan masa kini. Kita harus menjaga dan merawat warisan budaya bangsa, agar sejarah tidak pudar seperti jejak yang terhapus hujan.
“Mari kita menjaga dan merawat warisan budaya bangsa. Kita jaga sejarah dan kita wariskan kepada generasi penerus bangsa.”
Harapan untuk Museum Golok Nusantara
Sementara itu, pengurus GPSN, Bapak Rizal bersama Bapak Teguh selaku ketua pelaksana Lebaran Golok, menyampaikan harapan besar dari kegiatan ini. Mereka mendorong hadirnya ruang khusus yang dapat menampung koleksi golok dalam bentuk museum.
Mereka menilai museum golok akan berperan penting sebagai sarana edukasi bagi generasi penerus. Tempat itu nantinya tak hanya menyimpan benda, tetapi juga menyimpan makna—agar sejarah tetap hidup dan tidak perlahan menghilang.
Penulis : Indra Bagol
Editor : Yudi Purwanto












