Jakarta – Tekanan global boleh saja datang seperti ombak yang usil, tapi perbankan nasional tetap menjaga laju. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat pertumbuhan kredit mencapai 10,42 persen secara tahunan hingga akhir Maret 2026.
Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan perbankan masih menjalankan fungsi intermediasi dengan optimal. Ia melihat peningkatan baki debet dan jumlah debitur sebagai sinyal kuat bahwa pembiayaan terus mengalir ke sektor riil.
“Peningkatan baki debet kredit dan jumlah penerima kredit mencerminkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal. Utamanya dalam mendukung aktivitas ekonomi dan memperluas akses pembiayaan kepada masyarakat,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Senin, 20 April 2026.
Korporasi Jadi Motor Penggerak
Pertumbuhan kredit tidak berjalan sendiri. Sektor korporasi, komersial, dan konsumer sama-sama memberi dorongan. Namun, segmen korporasi tampil sebagai motor utama dengan pertumbuhan 14,29 persen.
Di saat yang sama, kredit konsumer tumbuh 13,97 persen, sedangkan kredit komersial naik 11,11 persen. Sayangnya, kredit UMKM justru melambat dan mengalami kontraksi 3,57 persen—seperti mesin kecil yang tersengal di tanjakan panjang.
“Kontraksi disebabkan dinamika global dan tekanan pada segmen usaha mikro,” ucap Menko Airlangga.
Ia menilai kondisi ini masih dalam batas aman. Menurutnya, fase ini merupakan bagian dari konsolidasi untuk membentuk struktur pembiayaan UMKM yang lebih sehat.
Pemerintah tidak membiarkan UMKM berjalan sendiri. Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap menjadi penopang utama agar akses pembiayaan tetap terbuka.
Airlangga menegaskan pemerintah akan menjaga penyaluran kredit, terutama saat risiko di sektor mikro meningkat.
Data Kemenko Perekonomian menunjukkan KUR tumbuh 0,21 persen secara tahunan hingga Triwulan I 2026. Sementara itu, baki debet KUR mencapai Rp522 triliun—angka yang menunjukkan komitmen tetap besar meski jalannya tak selalu mulus.
Program Kredit Pemerintah Ikut Tumbuh
Selain KUR, program Kredit Program Perumahan (KPP) juga menunjukkan perkembangan positif sejak peluncurannya pada Oktober 2025. Hingga 31 Maret 2026, baki debet KPP mencapai Rp15,76 triliun.
Secara keseluruhan, pemerintah mencatat pertumbuhan kredit program sebesar 3,23 persen. Program ini mencakup KUR, KPP, Kredit Usaha Alsintan, dan Kredit Industri Padat Karya.
“Secara keseluruhan, kredit program Pemerintah tumbuh sebesar 3,23 persen. Mencakup KUR, KPP, Kredit Usaha Alsintan, dan Kredit Industri Padat Karya,” ujar Menko Perekonomian.
Meski kredit terus tumbuh, pemerintah tetap mencermati risiko. Rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM naik menjadi 4,55 persen pada Maret 2026.
Namun, kualitas pembiayaan KUR masih terjaga. Pada Januari 2026, NPL KUR berada di level 2,16 persen.
“Desain kebijakan KUR dengan dukungan penjaminan dan pertanggungan, menjaga keseimbangan antara perluasan akses pembiayaan dan pengelolaan risiko,” kata Menko Airlangga.






