Jakarta, beritafakta.id- Karung-karung berisi gamis masih terikat rapi di depan kios Deni (37) di Blok A Tanah Abang. Siang itu, Selasa (10/3/2026), Deni duduk santai di atas salah satu karung sambil scroll ponsel. Lorong pasar yang biasanya padat justru terasa lebih longgar. Orang memang tetap lalu-lalang, tapi cuma sedikit yang benar-benar mampir buat beli.
Ramadan Sepi, Omzet Ikut Turun
Padahal, Ramadan biasanya jadi musim panen buat pedagang grosir seperti Deni. Menjelang Lebaran, ia biasanya nyaris tak sempat duduk. Pembeli datang bergelombang, bikin dia harus melayani transaksi tanpa jeda, bahkan sampai lupa waktu buat sekadar istirahat.
Tahun ini situasinya berbalik. Omzet yang dulu bisa tembus Rp10 juta hingga Rp15 juta per hari kini anjlok. Deni mengaku sekarang hanya membawa pulang sekitar Rp3 juta sehari. Waktu luang yang dulu langka, sekarang justru berlimpah—bahkan cukup buat main catur bareng pedagang sebelah.
Kondisi sepi ini terasa kontras dengan pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sehari sebelumnya, ia datang ke Tanah Abang untuk meninjau kondisi pasar yang dikenal sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Di depan wartawan, Purbaya menegaskan daya beli masyarakat masih aman. Ia juga menyebut ekonomi Indonesia jauh dari krisis, sementara isu resesi hanya spekulasi. Ia mendasarkan penilaian itu dari keramaian yang ia lihat saat tiba di lokasi.
Namun, Deni punya pandangan berbeda. Menurutnya, kerumunan itu bukan tanda ekonomi lagi ngebut, melainkan orang-orang yang penasaran ingin lihat pejabat. “Mungkin lihat orang kumpul buat foto, tapi Pak Purbaya tidak lihat kenyataannya yang terjadi,” ucapnya.
Ramai Pengunjung, Sepi Transaksi
Cerita serupa datang dari Desi (43), pedagang jilbab di Blok B. Ia menilai ramainya pengunjung tidak otomatis bikin dagangan laris. Banyak orang datang ke kiosnya, tapi cuma pegang barang, tanya harga, lalu pergi tanpa transaksi.
Desi kini harus bertahan di tengah harga kain yang terus naik dan daya beli pembeli yang stagnan. “Lebaran tahun ini rasanya cuma bertahan hidup buat modal bisa muter lagi, karena untung kami sudah habis buat bayar sewa lapak,” kata Desi. Ia tetap pasang harga murah agar pembeli tidak kabur, meski margin keuntungannya makin tipis.
Rizaludin (48), pedagang jeans di emperan pasar, bahkan punya istilah sendiri. “Kalau dibilang ekonomi stabil ya stabil sepinya mas,” keluh Rizal. Ia melihat pembeli memang datang, tapi kebanyakan hanya lihat-lihat tanpa belanja.
Dari sisi konsumen, kondisi ini juga terasa berat. Dita (45), ibu rumah tangga asal Tangerang Selatan, harus putar otak saat belanja baju anak. Ia mengaku harus mengatur ulang keuangan karena harga kebutuhan pokok terus naik.
“Uang buat baju Lebaran tahun ini kepotong banyak buat stok beras sama minyak goreng yang harganya tidak turun-turun padahal saya sudah keliling pasar buat cari harga paling murah,” tuturnya.
Biasanya, Dita membeli dua pasang baju untuk anaknya. Tahun ini, ia cukup membeli satu pasang saja demi menutup kebutuhan makan sehari-hari.
Sementara itu, Dika Shafitri (22), karyawan muda, punya cara berbeda. Ia datang ke Tanah Abang hanya untuk survei model dan bahan, lalu berencana membeli lewat aplikasi online.
“Saya lebih pilih beli lewat aplikasi online shop karena ada kupon diskon dan saya tidak perlu keluar ongkos transportasi lagi untuk angkut barang yang berat,” jelas Dika sambil memotret produk incarannya.
Daya Beli Melemah, Data Ikut Bicara
Fenomena ini menunjukkan keramaian pasar belum tentu mencerminkan daya beli. Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, menyebut kondisi ini sebagai fenomena “Rojali” dan “Rohana”—rombongan jarang beli dan rombongan hanya lihat-lihat.
Data juga mendukung kondisi tersebut. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 turun ke 125,2 dari 127,0 pada Januari. Meski masih di atas level optimis (100), penurunan ini menunjukkan tekanan pada daya beli.
Tauhid menilai penurunan terjadi pada berbagai indikator, mulai dari ekspektasi penghasilan, lapangan kerja, hingga kegiatan usaha. “Jadi ada problem, memang konsumen ini mengalami tekanan ke daya beli,” ujarnya.
Ia juga menyoroti inflasi yang mencapai 4,76 persen secara tahunan pada Februari 2026. Kenaikan harga, terutama pada bahan pokok, membuat masyarakat mengalihkan pengeluaran dari kebutuhan tersier seperti pakaian ke kebutuhan utama.
“Kenaikan harga bahan bahan pokok ini cukup berat dihadapi oleh mereka,” kata Tauhid.
Meski begitu, Tauhid melihat peluang perbaikan masih ada. Ia menilai pemerintah bisa mendorong daya beli lewat perluasan bantuan sosial dan menjaga harga-harga tetap stabil.
“Saya kira bisa dimungkinkan sepanjang bantuan sosial dari pemerintah itu jalan, program bantuan sosial bisa lebih besar jangkauannya dan lebih luas. Kemudian tidak ada menunda kenaikan beberapa harga yang diatur pemerintah, misalnya kenaikan bensin. Kalau nanti gara-gara perang di Timur Tengah harga bensin naik, kemungkinan daya belinya akan merosot lagi,” pungkasnya.












