Kota Tangerang, berita fakta.id – Pondok Tahfidz Daarul Qur’an (DAQU) mengadakan kegiatan ‘Khotmul Qur’an dan pemberian ijazah sanad Qur’an kepada beberapa Asatidz dan Santri di Mesjid DAQU pada Sabtu, 06 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Pondok Tahfidz pada dedikasi para Asatidz dan Santri.
Dihadiri pimpinan Pondok Tahfidz DAQU, KH.Ahmad Jamil, Ph.D, para masayikh markaz isnad DAQU antara lain Syeikh Prof.Dr.Zaid Ali Al-Ghaily, Syeikh Dr.Salim Somlah, Syeikh Abdullah Asy-Syajaroh, MA, Syeikh Dr.Abdurrahman Sholah, Syeikhoh Asma. Semuanya berasal dari negara Yaman.
Diadakan kegiatan ini bertujuan memelihara tradisi sanad Qur’an yang shahih bersumberkan pada pedoman dan tuntunan yang baku berlandaskan dari para ahli qiraat Qur’an. Di antara kalimat agung yang menjadi pondasi peradaban ilmu Islam adalah ucapan Abdullah bin Al-Mubarok : “Sanad itu adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa saja akan mengatakan apa saja sesuka hati nya”
Ungkapan ini bukan hadist Nabi saw, melainkan atsar ulama besar generasi awal Islam yang diriwayatkan dalam Muqoddimah Riwayat Shahih Muslim. Namun kedudukannya dalam tradisi keilmuan Islam sangat mendasar. Menjadi semacam manifesto epistemologis agama yang tidak boleh dibangun diatas klaim kosong, perasaan pribadi, vitalitas media atau otoritas semu, melainkan harus berdiri diatas transmisi ilmu yang shahih, guru yang jelas, jalur periwayatan yang tersambung serta akhlaq ilmiah yang bertanggung jawab.
Sanad dalam tradisi Islam bukanlah sekedar daftar nama guru. Ia adalah system verifikasi mekanisme autentikasi dan pagar moral bagi ilmu. Dalam ilmu hadits, sanad menjadi jalan untuk mengetahui apakah sebuah riwayat benar-benar bersambung kepada Rasulullaah saw. Karena itu lah lahir disiplin besar seperti ‘amal-rijaal’, al-jafi wal-ata, musthalaah al-hadits dan lainnya. Dalam ilmu qiraat, sanad bahkan memiliki kedudukan yang sangat khas, sebab bacaan Qur’an bukan hanya diwariskan melalui tulisan mushaf, tetapi juga melalui talaqqi, musyaafahah, ketepatan makhroj, sifat huruf, waqof ibtida’ serta pandangan langsung dari guru yang memiliki otoritas.
Hal semacam ini lah menjadi pijakan Pondok Tahfidz DAQU dalam mengajarkan ilmu Al-Qur’an untuk santri/santriwati nya. Semua ilmu agama harus berdasarkan pada sumber yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan pada Allah swt.
Sudah menjadi komitmen bagi pimpinan dan pengasuh untuk mendidik dan memberikan ilmu agama supaya bisa menjadi pondasi bagi para santri/santriwati untuk masa depan dan bekal di akhirat nanti. (Red/AMS)






