Oleh: DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA
Ketua Umum PP IKA Unissula / Direktur RSI Sultan Agung Semarang
Eksordium: Kosmos, Tubuh, dan Titik Ba
Di bawah mikroskop peradaban modern, manusia kerap memandang dirinya sekadar sebagai tumpukan materi—untaian asam nukleat, reseptor karbohidrat, dan cetak biru genomik yang mekanistik. Padahal, dalam tradisi sufistik, tubuh manusia merupakan mikrokosmos (alam al-shaghir), sebuah pantulan dari jagat raya yang agung (alam al-kabir). Setiap sel yang berdenyut dan setiap enzim yang mengkatalisis kehidupan dipandang sebagai manifestasi kalimat Ilahi yang tertulis pada lembaran eksistensi biologis.
Sebagai seorang ahli bedah yang sehari-hari memegang skalpel di meja operasi, saya menyaksikan betapa tipisnya batas antara dimensi fisik dan metafisik. Bedah modern mengajarkan presisi anatomi dan fisiologi. Namun, melalui koridor Studi Islam Kedokteran, kita diajak memandang lebih jauh bahwa apa yang dikonsumsi manusia tidak sekadar diubah menjadi ATP sebagai sumber energi atau menjadi penyusun berbagai protein, melainkan juga dipahami sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesucian diri di hadapan Sang Khalik.
Dari sudut pandang tersebut, keharaman babi (Sus scrofa) dibaca bukan semata-mata sebagai larangan ta’abbudi, tetapi sebagai bagian dari kerangka Maqasid Syariah yang dipahami bertujuan menjaga kemurnian fitrah manusia, baik dalam dimensi biologis maupun spiritual.
Epistemologi Rijs: Ketika Wahyu Menyapa Struktur Seluler
Al-Qur’an menyebut daging babi dengan istilah rijs.
“…Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi—karena sesungguhnya semua itu adalah rijs…”
(QS. Al-An’am [6]: 145).
Dalam perspektif sufistik, rijs dipahami sebagai simbol kekotoran maknawi yang menjauhkan manusia dari kesucian ruhani. Sementara itu, perkembangan ilmu biomedis mendorong sebagian kalangan untuk mencoba membaca istilah tersebut melalui pendekatan biologis.
Secara genetika, babi dan manusia memang memiliki sejumlah kesamaan genom sehingga babi banyak digunakan sebagai model penelitian dan pengembangan xenotransplantasi. Di sisi lain, terdapat pula berbagai perbedaan biologis yang menjadi perhatian dalam kajian imunologi, di antaranya keberadaan molekul Alpha-Gal (galactose-α-1,3-galactose) serta Porcine Endogenous Retroviruses (PERVs) yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai transplantasi lintas spesies.
Dalam kerangka pemikiran Studi Islam Kedokteran, fakta-fakta tersebut dipandang sebagai bahan refleksi untuk memahami hikmah larangan syariat melalui pendekatan integratif antara wahyu dan ilmu pengetahuan.






