Berita Fakta – Nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi memicu polemik di sejumlah daerah. Beberapa kampus menghentikan pemutaran film itu hanya beberapa menit setelah acara dimulai.
Foto dan video pembubaran nobar pun ramai beredar di media sosial. Di tengah kontroversi tersebut, publik mulai mempertanyakan isi film dan alasan aparat maupun pihak kampus membubarkan pemutaran.
Film Pesta Babi mengangkat kritik terhadap proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Dokumenter ini juga menyoroti dugaan keterlibatan aparat keamanan dalam pengamanan proyek investasi skala besar di wilayah adat.
Lalu, apa sebenarnya isi film Pesta Babi dan mengapa pemutarannya memicu kontroversi?
Apa Itu Film Pesta Babi?
Mengutip akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan film dokumenter investigatif yang membahas konflik pembangunan di Papua Selatan.
Sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale mengemas isu tersebut dalam dokumenter berdurasi 95 menit. Film ini menelusuri konflik agraria, perubahan ruang hidup masyarakat adat, hingga dampak proyek strategis nasional terhadap lingkungan dan budaya lokal.
Alih-alih sekadar menyajikan hiburan, film ini mendorong penonton melihat dampak pembangunan dari sudut pandang masyarakat adat Papua.
Cerita berfokus di wilayah Papua Selatan, terutama Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Kamera dokumenter mengikuti kehidupan masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang mengaku kehilangan hutan serta tanah ulayat akibat ekspansi perkebunan tebu, sawit, hingga proyek food estate.
Film tersebut juga menampilkan pembukaan hutan adat untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan berskala besar. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran warga adat terhadap hilangnya ruang hidup dan identitas budaya mereka.
Lewat narasi yang cukup tajam, film ini menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” di Papua. Dokumenter itu juga menyinggung dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek investasi, meski isu ini masih menjadi perdebatan di ruang publik.
Salah satu simbol yang berulang muncul dalam film ialah “salib merah”. Masyarakat adat memasang tanda itu sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan yang menguasai lahan mereka.
Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon. Dalam ritual adat tersebut, babi memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat penting.
Namun, tradisi itu sangat bergantung pada kelestarian hutan Papua. Karena itu, para pembuat film menggunakan istilah Pesta Babi sebagai metafora bahwa kerusakan hutan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga identitas budaya masyarakat adat.
Kenapa Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan?
Sejumlah kampus dan komunitas sempat menjadwalkan pemutaran film ini. Namun, beberapa agenda berakhir dibubarkan aparat keamanan maupun dihentikan pihak kampus dengan alasan menjaga ketertiban dan kondusivitas.
Berdasarkan unggahan Ekspedisi Indonesia Baru, pihak kampus menghentikan nobar di Universitas Mataram pada 7 Mei 2026. Pemutaran disebut dihentikan demi menjaga situasi tetap kondusif.
Selain itu, pemutaran di UIN Mataram juga terhenti ketika film baru berjalan beberapa menit.
Agenda serupa di Universitas Pendidikan Mandalika pun tidak berlanjut.
Di luar Mataram, muncul laporan mengenai pembatalan atau tekanan terhadap pemutaran film di Ternate dan Yogyakarta. Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi yang rinci terkait peristiwa di dua kota tersebut.
Kontroversi pembubaran nobar ini kemudian memicu kritik dari sejumlah warganet dan kelompok masyarakat sipil. Mereka menilai penghentian pemutaran film dokumenter berpotensi membatasi ruang diskusi publik, terutama terkait isu lingkungan, masyarakat adat, dan proyek pembangunan di Papua.
Di sisi lain, pihak yang mendukung pembubaran beralasan bahwa tema film dinilai sensitif dan berpotensi memicu polemik di tengah masyarakat.
Penulis : Yudi Purwanto
Editor : Yudi Purwanto






