Warga Kelurahan Banjarnegara memeriahkan dengan karnaval di HUT Kemerdekaan RI ke -81 nampak keunikan dan kelucuan tapi syarat aspirasi.(Dok.Kominfo Bna/Berita Fakta.id) Banjarnegara, BeritaFakta.id — Ribuan warga Kelurahan Kutabanjarnegara turun ke jalan dalam karnaval perdana memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu (23/8/2026). Di tengah kemeriahan sekitar 2.000 peserta dari delapan RW dan 42 RT, sebuah persoalan kebutuhan dasar justru mencuat:

krisis air bersih yang masih dirasakan sebagian warga.
Karnaval yang dipusatkan di halaman Masjid Al-Munawaroh tersebut menjadi sejarah baru bagi Kelurahan Kutabanjarnegara karena untuk pertama kalinya kegiatan serupa digelar secara bersama di tingkat kelurahan.
Sejak pagi, halaman masjid dan sejumlah ruas jalan yang menjadi rute karnaval dipadati warga. Peserta tampil dengan beragam kostum, atribut perjuangan, hingga berbagai kreasi yang menggambarkan semangat kemerdekaan.
Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia larut dalam kemeriahan. Warga tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga memadati sepanjang rute untuk menyaksikan iring-iringan karnaval.

Lurah Kutabanjarnegara, Purnomo, mengatakan tingginya partisipasi warga menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat.
> “Alhamdulillah, masyarakat sangat antusias mengikuti karnaval ini. Peserta berasal dari delapan RW dan 42 RT, kurang lebih ada 2.000 orang yang ambil bagian,” kata Purnomo.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berhenti pada perayaan kemerdekaan. Karnaval juga diharapkan menjadi ruang untuk mempererat kerukunan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
> “Kami berharap kegiatan ini membawa multiplier effect, terutama bagi para pedagang agar dagangan mereka laris dan pendapatan meningkat,” ujarnya.
Di Tengah Kemeriahan, Teriakan “Air” Menggema.
Namun, di balik gemerlap kostum dan kemeriahan peserta, sebuah suara berbeda muncul dari tengah barisan karnaval.
Seorang peserta bernama Kiman berulang kali meneriakkan, “Air… air… air…”
Teriakan tersebut bukan bagian dari atraksi. Kiman sengaja menyuarakannya sebagai bentuk aspirasi atas persoalan pasokan air bersih yang disebut sudah lama tidak mengalir ke rumahnya.
> “Air bersih di rumah saya sudah lama tidak mengalir. Untuk kebutuhan sehari-hari, saya terpaksa meminta ke tetangga yang punya sumur,” ungkap Kiman.
Persoalan itu, menurut Kiman, membuat kebutuhan sehari-hari menjadi lebih sulit. Warga harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ketika pasokan tidak kunjung normal.
Ia berharap pengelola layanan air bersih segera turun tangan melakukan pengecekan dan memastikan distribusi kembali berjalan.
> “Kami berharap pasokan air normal kembali. Jangan sampai warga terus kebingungan mencari air untuk kebutuhan harian,” tegasnya.
Karnaval perdana Kelurahan Kutabanjarnegara akhirnya tidak hanya menjadi perayaan kemerdekaan. Di tengah ribuan warga yang turun ke jalan, aspirasi tentang air bersih ikut menemukan panggungnya—menunjukkan bahwa di balik kemeriahan perayaan, masih ada kebutuhan dasar warga yang menunggu penyelesaian. (Bas)
Tidak ada komentar