Jakarta, beritafakta.id – Obrolan soal Jakarta memang tak pernah basi. Kota ini seperti kopi pahit: kadang bikin melek, kadang bikin meringis.
Dalam wawancara esklusif bersama Ibnu Markatab, seorang pensiunan Dinas Pekerjaan Umum membuka kembali album lama pembangunan ibu kota. (7/4/2026).
Ia memulai kisahnya dari titik paling awal. “16 Oktobrr 1967 masuk. Sampai pensiun tahun 2002,” kata sosok berusia 79 tahun yang akrab disapa Pak Ibnu.
Rentang waktu itu bukan sekadar angka, tapi saksi hidup perubahan Jakarta dari kota sederhana menjadi raksasa beton.
Lalu, ia bicara soal perubahan yang terasa seperti lompatan jauh.
“Perubahan dan perkembangan lebih baik, itu luar biasa. Karena apa? Karena anggaranya juga makin besar,” katanya saat diwawancarai di kediamanya pada Selasa, 7 April 2026.
Dulu, kata dia, kondisi jauh dari kata ideal. Pendapatan kecil, fasilitas seadanya, bahkan kantor pun masih sederhana.
“Kantor PU itu dulu waktu tahun 1967 itu masih pakai setengah kotangan. Bata dan gedek waktu itu,” kenangnya.
Dari Bangunan Sederhana ke Gedung Menara
Seiring waktu, Jakarta mulai berdandan. Dari gedek ke gedung, dari satu lantai ke tower menjulang. Tapi seperti cerita cinta yang terlalu cepat dewasa, masalah ikut tumbuh tanpa jeda.
Ia menyoroti persoalan klasik yang tak kunjung selesai. “Dulu itu cita-citanya Jakarta itu tidak banjir. Tapi kenyataannya Jakarta itu penurunan buminya. Sampai lebih dari 1 meter atau 1,5 meter,” jelasnya.
Tanah turun, air laut naik. Jakarta seperti mangkuk raksasa yang perlahan terisi.
Masalah lain muncul dari perubahan tata ruang.
Sungai yang dulu lebar kini tercekik bangunan. Akibatnya, banjir tak lagi sekadar lewat, ia menetap.
Beranjak ke soal lalu lintas, ia hanya bisa tersenyum pahit.
“Tidak berbanding lurus dengan pengadaan mobil,” ujarnya.
Jalan terus diperlebar, tapi kendaraan tumbuh seperti jamur di musim hujan.
“Saya pergi ke Cina itu gak ada macet.orang kaya di sana pilih helikopter kalau bekerja,” ungkapnya.
Rencana Besar yang Kandas di Tengah Jalan
Ia juga mengungkap rencana lama yang gagal terwujud. “Gambarnya udah lengkap. Tapi keduluan oleh perumahan,” katanya soal proyek waduk.
Kini, ruang sudah sesak. Jakarta seperti rumah kecil yang dipaksa menampung terlalu banyak mimpi.
Menurutnya, pendekatan penanganan banjir justru bertabrakan dengan alam.
“Enggak ada kali lurus… Itu maksudnya Allah supaya air itu mengendap di situ,” jelasnya.
Namun kini, air dipaksa cepat ke laut. Tanah kehilangan waktu untuk menyerap, dan banjir tetap datang seperti tamu tak tahu diri. Ia menilai setiap era sudah berusaha, tapi hasilnya belum memuaskan.
“Walaupun dikasih duit berapa tetap aja… tetap banjir,” ucapnya. Bahkan titik banjir bertambah, bukan berkurang.
Pindah Ibu Kota , Solusi atau Ilusi?
Ia lalu menyinggung pemindahan ibu kota yang sebenarnya bukan ide baru. “Saya juga gak ngerti Bung Karno dulu udah mau memindahkan ibu kota dari sini,” ujarnya.
Tentang IKN, ia melihatnya dari sisi teknis. “Kalau secara teknis, IKN bagus untuk di tempat itu,” katanya.
Ia menyebut kota baru itu lebih tertata, tidak seperti Jakarta yang tumbuh tanpa rem.
Di balik kritik, ia menyimpan cerita pribadi yang hangat. “Ada. Saya membuat jembatan di Perintis Kemerdekaan dulu… itu cukup berhasil,” tuturnya.
Jembatan itu masih berdiri, menjadi saksi kecil di tengah perubahan besar. Menutup perbincangan, ia menyampaikan harapan sederhana tapi dalam.
“Saya berharap Jakarta akan kering, Jakarta akan tidak banjir,” ujarnya.
Namun ia juga menekankan pentingnya kualitas manusia. “Harapan saya SDM-nya juga menjadi lebih baik,” harapnya.
Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya soal beton dan aspal. Jakarta adalah cermin manusia yang menghuninya, dan cermin itu masih terus mencari bentuk terbaiknya.
Penulis : YUDI PURWANTO
Editor : AZIZAH ESTETIKA






