Beritafakta.id – Belajar Al-Qur’an bukan soal usia, tapi soal kemauan. Pesan itu mengalir kuat dalam ceramah Khotmil Quran yang disampaikan Ust. H. Munfasir S.Ag. Di Masjid AL Hikmah, Kav TNI AL, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Ia mengajak jamaah untuk tidak menunda belajar, karena waktu sering “nakal”, diam-diam berjalan, lalu tiba-tiba meninggalkan.
Berangkat dari itu, Ustaz Munfasir menegaskan bahwa perjalanan menjadi Ahlul Quran tidak terjadi dalam semalam. Ia menggambarkan prosesnya seperti tangga yang harus dinaiki satu per satu.
Empat Tahapan Menuju Ahlul Quran
Pertama, seseorang harus mulai dengan membaca. Ia perlu mengenal huruf dan memahami tajwid sebagai fondasi dasar.
Selanjutnya, ia perlu memahami arti dari ayat yang dibaca. Setelah itu, ia bisa melangkah ke tahap tafsir untuk mendalami makna dan sebab turunnya ayat.
Pada akhirnya, semua proses itu harus bermuara pada pengamalan. Seseorang harus menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar membacanya.
Di sisi lain, Ustaz Munfasir mengangkat semangat belajar di usia lanjut. Ia mengutip pepatah Arab, “Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air.”
Meski belajar di usia senja terasa lebih menantang, ia tetap mengapresiasi semangat ibu-ibu Majelis Taklim Al-Hikmah. Mereka terus belajar dengan istiqomah, seolah menolak kalah oleh usia.
Menurutnya, semangat itu menjadi bukti bahwa siapa pun tetap bisa belajar tanpa mengenal kata terlambat.
Adab Membaca Al-Qur’an yang Sering Terlupa
Masuk ke bagian adab, Ustaz Munfasir menyoroti dua hal penting yang sering luput dari perhatian.
Pertama, ia mengingatkan agar jamaah membaca Al-Qur’an dengan suara yang wajar. Suara yang keluar membantu orang lain atau guru mendengar dan mengoreksi kesalahan. Namun, ia tetap meminta jamaah menjaga volume agar tidak mengganggu orang lain.
Kedua, ia menegaskan pentingnya menghentikan bacaan saat azan berkumandang. Ia meminta jamaah menjawab azan terlebih dahulu karena panggilan itu memiliki keutamaan tersendiri.
Lebih jauh, Ustaz Munfasir mengingatkan jamaah agar tidak hanya fokus pada tajwid. Ia menilai banyak orang terlalu sibuk dengan hukum bacaan, tapi justru melupakan dasar utamanya, yaitu makhorijul huruf.
Ia memberi contoh kesalahan yang sering terjadi. Pada bacaan ikhfa, sebagian orang mengubah dengung menjadi bunyi “ng”, padahal suara harus mengarah ke makhraj huruf berikutnya.
Ia juga menyoroti perbedaan huruf Dhod dan Dal. Banyak orang keliru melafalkan Dhod tanpa sifat memanjang yang khas.
Selain itu, ia mengingatkan perbedaan huruf Shod dan Sin. Ia menegaskan bahwa Shod memiliki karakter tebal yang tidak bisa disamakan dengan Sin.
Jangan Menunda, Waktu Tak Pernah Menunggu
Di penghujung ceramah, Ustaz Munfasir menceritakan kisah sahabat Nabi bernama Syakban. Dalam kisah itu, Syakban menyesal saat menghadapi sakaratul maut karena merasa amalnya belum maksimal.
Kisah tersebut menjadi pengingat yang “menampar halus”. Ia mengajak jamaah untuk tidak menunda belajar Al-Qur’an.
Menurutnya, penyesalan sering datang terlambat. Karena itu, ia mengingatkan satu hal sederhana namun dalam: jika bukan sekarang, kapan lagi?
Ceramah ini menegaskan bahwa belajar Al-Qur’an bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang kemauan untuk terus melangkah, meski pelan, asalkan tidak berhenti.











