MANDAILING NATAL, Beritafakta.id – Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina) kian masif dan marak. Kondisi ini terus menuai sorotan tajam dari publik.

Lokasi ini sempat digerebek oleh Tim gabungan Polda Sumut yang dipimpin Wakapolda Brigjen Pol. Sonny Irawan di kawasan Sungai Batang Gadis, Desa Panabari, Kecamatan Tano Tombangan Angkola, perbatasan Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal, pada Selasa, 3 Maret 2026 yang lewat. Operasi skala besar saat itu sempat menyita 12 unit ekskavator dan mengamankan 17 orang. Namun fakta mengejutkan, kini lokasi tersebut justru beroperasi makin brutal dan buas serta terkesan kebal hukum.
Penertiban yang pernah dilakukan diduga hanya sandiwara kosmetik dan formalitas. Muncul spekulasi di tengah masyarakat bahwa penindakan tersebut hanya demi mengejar “setoran” yang lebih besar dari para cukong tambang ilegal.
Sorotan utama kini tertuju pada sosok berinisial Zen. Ia merupakan putra daerah Tantom sekaligus mantan Anggota DPRD Kab Tapanuli Selatam. Oknum bernama Zen yang mencuat ke publik ini diduga kuat terlibat langsung dalam jaringan mafia tambang ini. Ia disinyalir memiliki sejumlah unit alat berat (ekskavator/beko) yang beroperasi secara bebas di lokasi.
Lebih dari sekadar pelaku lapangan, Zen juga diduga berperan sebagai aktor intelektual sekaligus pemodal (bohir hitam) yang menyandang dana operasional aktivitas haram tersebut.

Menyikapi hal ini, Ketua SIPLAH (Solidaritas Pemuda Peduli Lingkungan Hidup) Ahmad Rifai angkat bicara dan meminta ketegasan dari pucuk pimpinan kepolisian di Sumatera Utara.
“Kapoldasu harus bertindak tegas dan segera mengeksekusi instruksi Presiden RI tentang pemberantasan tambang ilegal. Kapoldasu harus berani menyikat habis para pemodal atau bohir hitam, serta memecat oknum aparat yang diduga kuat membekingi aktivitas ilegal tersebut,” tegas Ahmad Rifai dalam keterangan pers di Panyabungan (24/08)
Rifai menyatakan, dampak dari aktivitas ilegal di aliran Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola ini dinilai sangat mengerikan. Kegiatan tersebut merusak ekosistem dan mengancam kelestarian ekologis warga sekitar.
Secara terpisah, Direktur The Madina Green Institute (TMGI) Ridwandi Nasution mengungkap kekecewaan publik akibat sikap
Kapolres Tapsel dan Kapolres Madina yang dinilai pasif dan tidak berani menunjukkan taring penegakan hukum. Sikap diam kedua pucuk pimpinan korp bhayangkara itu kini memantik spekulasi liar di masyarakat. Muncul asumsi negatif mengenai adanya dugaan pembiaran dan perlindungan institusi terhadap para pelaku. Penegakan hukum di wilayah hukum kedua Polres tersebut dinilai “tumpul” dan mandul.
Ridwandi Nasution, juga menyampaikan desakan serupa agar ada tindakan nyata demi mengembalikan kepercayaan masyarakat.
“Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo jangan hanya diam. Kita desak agar segera menginstruksikan Kapoldasu untuk bertindak tegas dan jangan tutup mata. Kita menuntut Kapoldasu untuk segera menangkap Zen dan para bohir hitam lainnya yang diduga sebagai salah satu aktor utama PETI tersebut. Ini penting untuk memberikan efek jera dan memulihkan kepercayaan publik kepada penegakan hukum,” ujar Ridwandi Nasution.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak terkait yang disebutkan di atas. Media ini membuka luas ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak yang bersangkutan demi kepentingan jurnalistik serta informasi yang berimbang dan akurat.
(Magrifatulloh)
Tidak ada komentar