Semarang, Berita Fakta – Wakil Rektor III UIN Walisongo Semarang, Dr. Hj. Umul Baroroh, M.Ag., hadir dalam diskusi terbuka tentang kekerasan seksual di lingkungan kampus. Diskusi itu berlangsung di Landmark Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Senin (11/5/2026).
Di penghujung sambutannya, Umul Baroroh menyoroti dua hal yang menurutnya sama pentingnya: etika bermedia sosial dan upaya memulihkan citra institusi. Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan mahasiswa agar bijak saat mempublikasikan isu kekerasan seksual di kampus.
“Yang saya pesankan pada adik-adik semuanya bahwa marilah kita mulai cerdas menggunakan media, juga bagaimana cerdas menggunakan media memang ini zamannya medsos ya, zamannya medsos sudah internet ya, borderless ya, tidak ada batas ketika kejadian di sini maka di dunia lain juga akan membaca yang ada di sini.” Pesan yang disampaikan dalam pidatonya.
Pesan itu meluncur seperti rem di jalan menurun. Informasi melaju dengan cepat dan sulit dihentikan. Akibatnya, dampaknya juga sulit dikontrol oleh kampus.
Kemudian, tokoh Aisyiyah itu menggambarkan kondisi UIN Walisongo dengan bahasa yang lugas. Dirinya menggunakan perumpamaan kata “bonyok” untuk menggambarkan dampak dari pemberitaan kasus tersebut.
“Saat ini kita sudah bopeng, UIN sudah bopeng, sudah nggak karu-karuan, sudah bencong kemana-mana itu ya. Tetapi bagaimana kemudian ya, tidak ada yang tidak pada korban, pada pelaku, tetapi kita semua sudah bopeng semua ini, kita itu bonyok semua ini, dengan adanya pemberitaan itu.” Ucapnya dengan penuh nada.
Pilihan kata itu terdengar keras, tetapi justru menunjukkan bahwa ia tidak berusaha menyapu debu ke bawah karpet. Ia mengakui kampus sedang menghadapi situasi yang memukul banyak pihak.
Menariknya, dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi itu tetap konsisten dengan gaya komunikasinya yang terus terang. Ia mengajak seluruh civitas akademika menerima kenyataan. Setelah itu, ia mendorong semua pihak mencari jalan keluar dengan kepala dingin.
“Mau tidak mau kita harus mengakui kita sudah bonyok semua ini, bukan beda lagi yang halus mulus, nggak ada kayak gitu. Oleh karena itulah, monggo [mari/red] kita bijak dalam menggunakan media sosial kalau menggunakan media sosial tidak memberikan solusi, kenapa malah menjadikan kita bonyok semuanya?” Harapnya.
Selanjutnya, Umul Baroroh menekankan pentingnya membangun komunikasi di jalur internal kampus. Menurutnya, langkah itu lebih efektif untuk melindungi semua pihak sekaligus menemukan solusi.
“Kalau kemudian kita menyalurkan hal-hal yang harus kita selesaikan dan mencari solusi, ya salurkan kepada pihak yang benar, kepada orang yang tepat, ya. Kalau mahasiswa pada dosen walinya atau kepada dosen, atau kepada pak dekan atau siapa kepala jurusan dan sebagainya saya kira itu lebih bisa melindungi dan bisa menyarikan solusi. Dan Insya Allah tidak jadi bonyok semuanya seperti ini, karena kita kan sudah bonyok semuanya ini, ya, bopeng semuanya.” Lanjutnya.
Pernyataan itu menegaskan pandangannya bahwa media sosial tidak selalu menjadi ruang terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Kadang, solusi justru tumbuh di ruang dialog yang tenang. Bukan di kolom komentar yang ramai.
Pada akhirnya, pernyataan Umul Baroroh membuka pertanyaan yang lebih luas tentang cara generasi hari ini memandang komunikasi. Media sosial telah menjadi ruang hidup kedua bagi banyak anak muda. Di sana, informasi bergerak lebih cepat daripada orang sempat menarik napas.
Namun, nasihat untuk bijak bermedia sosial sering terdengar seperti peta dari generasi yang baru mengenal internet. Sementara itu, anak-anak muda sudah berenang di dalamnya sejak kecil. Di titik itu, tantangannya bukan sekadar meminta mahasiswa berhati-hati. Tantangannya juga menunjukkan melalui teladan bahwa etika komunikasi lahir dari kebiasaan, bukan larangan.
Alih-alih bijak, nyatanya pendidikan tidak hanya mengajarkan apa yang harus dikatakan. Pendidikan juga menunjukkan bagaimana bersikap ketika kampus sedang diterpa masalah. Di tengah masalah itu, pertanyaan pun muncul: apakah kampus ingin sekadar menutup jendela, atau benar-benar memperbaiki atap yang bocor?
Penulis : Yudi Purwanto
Editor : Yudi Purwanto






