beritafakta.id – Di tengah semakin besarnya tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan air, kehadiran Bendungan Sidan menjadi harapan baru bagi ribuan petani di Provinsi Bali. Bendungan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/7/2026) lalu itu kini menjadi penyangga utama ketersediaan air irigasi bagi lahan pertanian, sehingga produktivitas pangan dapat terus terjaga sepanjang tahun.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air memastikan Bendungan Sidan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain menyediakan air baku dan pengendalian banjir, bendungan ini berfungsi mendukung pengairan 9.598 hektare daerah irigasi eksisting yang tersebar di Daerah Irigasi (DI) Mambal seluas 5.963 hektare dan DI Kedewatan seluas 3.635 hektare.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bendungan merupakan infrastruktur dasar yang memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Menurut Menteri Dody, keberhasilan pembangunan bendungan baru benar-benar dirasakan ketika air mengalir hingga ke lahan pertanian dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air memerlukan tata kelola air yang tertib, berkelanjutan, dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu,” kata Menteri Dody.
Keberadaan Bendungan Sidan juga memperkuat sistem irigasi di Bali yang selama ini menjadi penopang sektor pertanian dan menjaga keberlanjutan sistem subak sebagai warisan budaya. Dengan pasokan air yang lebih stabil, petani memiliki kepastian dalam mengatur pola tanam, meningkatkan indeks pertanaman, serta mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan air.
Hadirnya Bendungan Sidan diproyeksikan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari 265% menjadi 271%, sehingga petani memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan frekuensi tanam dan produktivitas hasil pertanian. Dengan kapasitas tampung sebesar 5,76 juta meter kubik dan luas genangan mencapai 39,37 hektare, memungkinkan fungsi Bendungan Sidan sebagai tampungan air dapat menyimpan air pada musim hujan untuk dimanfaatkan kembali saat musim kemarau.
Secara administratif, Bendungan Sidan berada di Daerah Aliran Sungai Ayung. Lokasi tapak bendungan dan genangannya mencakup Desa Sidan di Kabupaten Badung, Desa Buahan Kaja di Kabupaten Gianyar, serta Desa Bunutin, Mengani, dan Langgahan di Kabupaten Bangli. Pembangunan Bendungan Sidan dimulai pada Oktober 2018 dan diselesaikan pada 2024 oleh Konsorsium PT Brantas Abipraya (Persero) dan PT Universal Suryaprima pada Paket I dengan nilai kontrak sekitar Rp 808 Miliar dan PT Brantas Abipraya (Persero) pada Paket II (Lanjutan) dengan nilai kontrak sekitar Rp. 790 Miliar.
Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Sidan memiliki manfaat multifungsi, yakni menyediakan air baku sebesar 1.750 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Denpasar serta Kabupaten Badung dan Gianyar. Infrastruktur ini sekaligus menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan air bagi kawasan pariwisata di Provinsi Bali yang terus berkembang.
Selanjutnya, bendungan bertipe zonal inti aspal dengan tinggi puncak 68 meter ini juga diproyeksikan mampu mereduksi potensi banjir pada kawasan seluas 108 hektare, berpotensi menghasilkan energi baru terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,65 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berkapasitas 7,43 MW, serta memiliki potensi sebagai destinasi wisata baru di Bali.
Ke depan, Kementerian PU akan terus mengoptimalkan pengelolaan Bendungan Sidan beserta jaringan irigasinya agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat. Dengan pasokan air yang andal, produktivitas pertanian dapat terus meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, dan cita-cita mewujudkan swasembada pangan nasional dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (#PU608)












